Dunia Islam Berisi Artikel Islami, Al quran, Kitab Hadits, Arti Mimpi menurut islam, dakwah dan Kisah Islami, Download Murottal Al quran 30 Juz.

Uang Di Atas Nampan

by TEGUH T.A , at 11:37 AM , has 0 comments
Abu Ishak Ibrahim bin Abi Hilal adalah seorang sekeretaris pribadi Abu Muhammad Muhaliabi, seorang menteri pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Ia menceritakan kisah berikut ini, "Ketika aku sedang duduk di samping Abu Muhammad Muhaliabi, penjaga gerbang datang dan memberi tahu kepadaku bahwa Syarif Murtadha rah.a meminta izin untuk masuk, sang menteri pun memberi izin. Dan ketika Syarif Murtadha rah.a masuk, mentri berdiri penuh hormat dan mempersilahkannya  duduk.Setelah Syarif Murtadha rah.a duduk, ia berbincang-bincang dengannya. Ketika ia hendak pulang, mentri itu berdiri untuk melepas kepergian Syarif Murtadha rah.a.

Tidak lama setelah kepergian Syarif Murtadha rah.a., penjaga pintu gerbang datang lagi dan memberitahu bahwa adik Syarif Murtadha rah.a, yakni Syarif Ridha rah.a meminta izin untuk masuk. Pada saat itu, menteri tersebut sedang sibuk menulis, lalu ia segera menyimpan secarik kertas itu dan segera menuju ke pintu. Ia menjabat tangan Syarif Ridha rah.a. dengan penuh hormat, lalu menuntunnya menuju tempat duduknya. Ketika Syarif Ridha rah.a duduk dengan penuh tawadhu' di depannya, pembicaraannya didengarkan dengan penuh perhatian. Dan ketika ia hendak minta izin untuk pulang, menteri itu mengantarkannya sampai kepintu gerbang".

Aku sangat heran melihat kejadian tersebut. Karena pada waktu itu banyak orang yang duduk di majelis mentri, maka aku tidak berani bertanya. Setelah tinggal sedikit orang yang berada di samping menteri, barulah aku berkata kepadanya, "Seandainya diizinkan, aku akan bertanya sesuatu kepada engkau.".

Sang menteri berkata, "Tentu saja silakan bertanya, kemungkinan besar engkau akan bertanya mengapa aku lebih memuliakan adiknya daripada kakaknya, padahal umur dan ilmunya lebih banyak.".

Aku berkata, "inilah yang aku tanyakan.".

Menteri berkata, "Dengarkanlah dengan penuh perhatian. Kami telah memerintahkan untuk menggali sungai yang di dekatnya terdapat tanah milik Syarif Murtadha rah.a. sehingga sebagian biayanya menjadi tanggung jawab Syarif Murtadha rah.a, yakni sekitar lebih dari enam belas dirham. Syarif Murtadha rah.a. menulis surat kepadaku berkali-kali, supaya biaya itu dikurangi sedikit. Hanya untuk uang yang sedikit saja, ia telah menulis surat untukku berkali-kali.

Mengenai Syarif Ridha rah.a., suatu ketika aku mengetahui bahwa anaknya telah lahir. Sebagai ucapan selamat, aku kirimkan kepadanya satu nampan uang yang berisi 100 dinar agar digunakan untuk keperluannya. Tetapi ia mengembalikannya dan berkata kepada utusanku, "Setelah engkau sampaikan ucapan terima kasih kepada menteri, katakan kepadanya bahwa aku tidak menerima pemberian orang-orang. Alhamdulillah, aku telah mempunyai harta sekadar untuk mencukupi keperluanku.".

Ketika aku mengirimkannya lagi untuk kedua kalinya, aku berkata, "Ini untuk upah bidan yang telah membantu kelahiran anakmu.". Tetapi ia mengembalikannya lagi dan berkata, "Kaum wanita kami juga tidak biasa mengambil pemberian orang lain.".

Untuk ketiga kalinya, aku mengirimkan uang kepadanya dan aku katakan bahwa uang tersebut untuk pelajar-pelajar ilmu agama yang berada di bawah asuhanmu. Ia berkata, "Sangat menyenangkan." Kemudian ia meletakkan uang yang di dalam nampan itu di depan para santri. Siapa saja yang memerlukannya dipersilakan mengambil uang tersebut.

Uang Di Atas Nampan

Syarif Ridha rah.a. mempunyai murid yang sangat banyak. Ia membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal para muridnya yang diberi nama Darul-Ulum. Di tempat ini, para murid itu bertempat tinggal dan keperluannya dicukupi oleh Syarif Ridha rah.a.

Setelah nampan itu ditaruh di depan para murid, tidak ada seorang pun yang berdiri untuk mengambilnya, kecuali seorang murid yang mengambil satu dinar saja, dan di tempat itu pula murid tersebut memecahnya, kemudian mengambil hanya sedikit bagian dari satu dinar itu dan menyimpannya, sisanya dikembalikan di dalam nampan itu.

Syarif Ridha rah.a. bertanya kepada murid itu, "Sepotong dinar yang sedikit itu untuk keperluan apa?" Ia menjawab, "Pada suatu malam aku tidak memiliki minyak untuk menyalakan lampu, dan aku tidak bertemu dengan pemegang kunci amanah, maka aku berutang minyak kepada Fulan, dan ini untuk membayar utang itu.".

Setelah itu Syarif Ridha rah.a. menyuruh untuk membuat kunci amanah sebanyak muridnya, dan memberikan kepada setiap murid sebuah kunci khazanah sehingga sewaktu-waktu memerlukannya, setiap murid dapat mengambilnya sebanyak keperluannya dan tidak perlu bertanya kepada bendahara. Ada pun nampan itupun dikembalikan dalam keadaan uangnya hanya berkurang sedikit.

Setelah menceritakan kisah ini, menteri berkata, "Sekarang engkau tentu mengetahui mengapa aku sangat memuliakan orang seperti dirinya (Ithaf).
TEGUH T.A
About
Uang Di Atas Nampan - written by TEGUH T.A , published at 11:37 AM , categorized as sedekah . And has 0 comments

0 comments Add a comment
Bck
Cancel Reply
loading...
Copyright ©2013 dunia islam by
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger
--> -->