atas home

Saturday, April 25, 2015

Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua Menurut Islam

Sobat Dunia Islam, mengingat betapa penting berbakti kepada kedua orang tua, kali ini kita akan bahas mengenai kewajiban seoran anak kepada kedua orang tua. Bagaimana sikap kita sebagai muslim kepada orang tua yang kafir, dan sebagainya. Simak yuk..



"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut di dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
(Q.S-Isra': 23-25).

Di atas adalah terjemahan dari ayat berikut:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا


وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا


رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلأوَّابِينَ غَفُورًا


Ada beberapa hadits yang berkaitan dengan hal ini, seperti di bawah ini:

Diriwayatkan dari Mujahid rahmatullah alaih bahwa tafsir ayat di atas adalah, "Jika ia telah menjadi tua dan kamu mesti mencuci air kencing dan berak mereka, maka jangan sekali-kali berkata ‘uff’, karena mereka juga telah mencuci air kencing dan berakmu ketika kamu masih kecil.". Ali radiyallahu anhu berkata, "Jika ada perkataan biadab yang lebih rendah derajatnya dari perkataan "uff ', maka Allah swt tetap akan mengharamkannya."

Seseorang bertanya kepada Hasan radiyallahu anhu, "Apakah ukuran durhaka kepada orang tua?" Ia menjawab, "Tidak memberi kepada mereka, harta milik kita, tidak menemui mereka, dan melihat mereka dengan tatapan yang tajam."

Ketika seseorang bertanya kepada Hasan r.a, apakah maksud berkata dengan baik kepada mereka? Ia menjawab, "Memanggil mereka dengan sebutan bapak ataupun ibu, jangan hanya menyebut namanya.

Diriwayatkan mengenai tafsir ayat di atas dari Zubair bin Muhammad radiyallahu anhu, "Bila mereka (orang tua) memanggil, jawablah dengan, ya, saya hadir" Qatadah rahmatullah alaih berkata bahwa maksudnya adalah hendaknya berbicara dengan lemah lembut kepada mereka."

Seseorang bertanya kepada Sa'id bin Musayyab rahmatullah alaih, "Di dalam Al-Qur'an banyak sekali didapati perintah agar berbuat baik dan saya memahaminya, tetapi saya tidak memahami maksud perkataan yang mulia." Ia berkata, "Sebagaimana seorang hamba sahaya yang sangat bersalah, berbicara dengan tuannya yang sangat keras wataknya."

Aisyah radiyallahu anha berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw bersama seorang yang telah tua. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Siapakah ini?' Ia menjawab, ‘ini ayah saya.' Rasulullah saw bersabda, "Jangan berjalan di depannya, jangan duduk sebelum ia duduk, jangan memanggil hanya dengan menyebut namanya, dan jangan berkata kepada mereka perkataan yang buruk."

Seseorang bertanya kepada Urwah radiyallahu anhu, "Di dalam Al-Qur'an ada perintah untuk menunduk di hadapannya, apakah maksudnya?" la menjawab, "Jika mereka mengucapkan perkataan yang tidak kamu sukai, maka janganlah kamu memandangnya dengan pandangan yang tajam karena ketidaksukaan seseorang akan diketahui dari pandangannya yang tajam."

Aisyah radiyallahu anha meriwayatkan dari Rasulullah saw, "Barangsiapa yang melihat kepada ayahnya dengan pandangan yang tajam, ia bukan anak yang taat.".

Abdullah bin Mas'ud radiyallahu anhu berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah saw, apakah amalan yang paling disukai Allah swt?" Beliau bersabda, "Mendirikan shalat tepat pada waktunya."

Saya bertanya, "Setelah itu amal yang mana?" Beliau bersabda, "Berbuat .baik kepada kedua orangtua." Saya bertanya, "Setelah itu apa?" Beliau bersabda, "Berjihad." Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan sabda Nabi saw, "Keridhaan Allah terletak dalam keridhaan orang tua, kemurkaan Allah terletak dalam kemurkaannya" - Kitab Durrul Mantsur.

Penyusun kitab Mazhahirul Haqq menulis, bahwa yang termasuk hak-hak ayah dan ibu ialah merendahkan diri dan bersikap sopan, melayani mereka sehingga ridha, mentaati mereka dalam perkara-perkara yang dibolehkan, tidak berbuat kurang ajar, tidak bersikap sombong. Walaupun mereka termasuk orang kafir, jangan meninggikan suara melebihi suaranya, jangan memanggil mereka dengan hanya menyebut namanya, jangan mendahului mereka dalam suatu pekerjaan, berlemah lembut dalam amar ma'ruf dan nahi munkar, katakan saja satu kali saja, jika mereka tidak menerima nasihat kita, hendaknya kita tetap berbuat baik kepada mereka, senantiasa berdo'a dan memohon ampun untuk mereka. Semua ini bersumber dari Al-Qur'an, yakni diambil dari nasihat Nabi Ibrahim alaihis salam kepada ayahnya. (Mazhahirul-Haqq).

Suatu ketika, setelah menasihati orang tuanya, beliau berkata, "Baiklah sekarang saya akan berdoa kepada Allah untuk kalian." (disebutkan dalam surat Al-Kahfi: 47) .

Sebagian ulama berkata, "Taat kepada kedua orang tua dalam perkara haram adalah tidak boleh, tetapi dalam hal-hal yang samar itu wajib. Karena berhati-hati dari perkara syubhat merupakan takwa dan mencari keridhaannya merupakan kewajiban. Oleh karena itu, jika harta mereka subhat dan mereka marah jika kamu makan sendirian, hendaknya kamu makan bersama mereka"

Abbas radiyallahu anhuma berkata, "Jika seorang muslim berbuat baik kepada orang tua yang masih hidup, maka kedua pintu surga terbuka untuknya. Jika ia membuat marah kedua orangtuanya, maka Allah swt tidak ridha selama ia tidak membuat kedua orang tuanya ridha.

Seseorang bertanya, "Kalau ia berbuat zhalim, lalu bagaimana?"

Ibnu Abbas berkata, "Walaupun ia berbuat zhalim." Thalhah radiyallahu anhu berkata bahwa seseorang telah datang kepada Rasulullah saw dan meminta izin untuk ikut serta dalam perang jihad. Rasulullah saw bersabda, "Apakah ibumu masih hidup?" Ia menjawab, "Ya, masih hidup." Rasulullah saw Bersabda, "Tetaplah melayaninya, karena surga berada di bawah telapak kakinya."

Kemudian untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya Rasulullah saw bersabda seperti itu. Anas radiyallahu anhu berkata, "Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya sangat ingin ikut berjihad, tetapi saya tidak mampu." Rasulullah saw bersabda, "Adakah di antara kedua orang tuamu yang masih hidup?" Ia menjawab, "Ibu saya masih hidup."

Rasulullah saw bersabda, "Takutlah kepada Allah mengenai dirinya (yakni dalam menunaikan hak-hak mereka, hendaknya dilakukan berdasarkan takwa, bukan fatwa). Jika kamu berbuat demikian, maka kamu mendapat pahala haji, umrah, dan berjihad. Yakni pahala yang diperoleh dari amalan-amalan itu kamu mendapatkannya."

Muhammad bin Al-Munkadir rahmatullah alaih berkata, "Saudara saya, Umar telah menghabiskan malamnya dengan shalat, dan saya menghabiskan malam dengan memijit kaki ibu saya. Saya tidak pernah berharap mendapatkan (pahala) malamnya sebagai ganti malamku."

Aisyah radiyallahu anha berkata, "Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw, "Siapakah yang paling berhak atas seorang wanita ?" Beliau bersabda, "Suaminya." Kemudian saya bertanya lagi, "Siapakah yang paling berhak atas laki-laki?" Rasulullah bersabda, "Ibunya." Rasulullah saw bersabda, "Tinggallah bersama istri-istrimu dalam keadaan menjauhi hal-hal yang tidak halal, maka istri-istrimu juga akan menjauhi perkara-perkara yang haram. Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, maka anak-anakmu juga akan berbuat baik kepadamu." (Durrul-Mantsur)

Thawus rahmatullah alaih berkata, "Seorang laki-laki mempunyai empat anak. Ketika ia jatuh sakit, salah seorang anaknya berkata kepada ketiga saudaranya, 'Kalian boleh merawat ayah dengan syarat kalian tidak mendapat apa pun dari harta warisannya. Jika kalian tidak sanggup, maka saya sendiri yang akan merawatnya dengan syarat saya tidak akan mengambil sesuatu apa pun dari harta warisannya."

Akhirnya, mereka rela dengan keputusan itu, bahwa ia saja yang akan merawat ayah mereka dengan syarat tersebut, dan mereka tidak akan melakukannya. Maka ia telah melayani ayahnya dengan sungguh-sungguh. Kemudian ayahnya meninggal dunia. Sesuai syarat yang telah disepakati, ia tidak mengambil harta warisan sedikit pun.

Pada malam harinya, di dalam mimpinya ia melihat seseorang yang berkata, "Di suatu tempat ada seratus dinar yang terjatuh, ambillah uang itu" Kemudian ia bertanya, Adakah keberkahan di dalamnya?" Orang itu menjawab, "Tidak ada keberkahan di dalamnya"

Pagi harinya, ia menceritakan mimpinya itu kepada istrinya. Maka istrinya memaksanya untuk mengambil uang itu, tetapi ia tidak mau. Pada hari kedua, ia bermimpi lagi. Di dalam mimpinya itu seseorang berkata bahwa ada sepuluh dinar di suatu tempat. Ia pun bertanya lagi, adakah keberkahan di dalamnya, dan orang itu berkata, "Tidak ada keberkahan di dalamnya." Pada pagi harinya, ia menceritakan mimpinya itu kepada istrinya. Maka istrinya menyuruhnya berkali-kali agar mengambil uang itu, tetapi ia tidak mau mengambilnya.

Pada hari ketiga, ia bermimpi lagi. Dalam mimpinya, seorang berkata kepadanya, "Di tempat ini kamu akan mendapatkan satu dinar, ambillah uang itu" la bertanya lagi, apakah ada keberkahan di dalamnya. Orang itu berkata bahwa di dalamnya ada keberkahan. Pada pagi harinya, ia mengambil uang satu dinar itu, kemudian pergi ke pasar untuk membeli dua ekor ikan dengan uang tersebut. Dari setiap ikan, keluarlah sebuah mutiara yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun seumur hidupnya. Ketika berita itu terdengar oleh raja, maka sang raja memaksa untuk membeli kedua mutiara itu dengan bayaran emas sebanyak muatan 90 ekor baghal (persilangan antara kuda dengan keledai).

Friday, April 17, 2015

Pandanglah Ke Bawah!

Dunia Islam - Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan dari segi harta atau rupa, hendaklah ia juga melihat orang yang lebih rendah darinya" (kitab: Muttafaq Alaih - Misykat).




Apabila seseorang melihat seorang jutawan, lalu timbul rasa tamak dan keluh kesah dalam hatinya, lalu ia berkata, "Ia memiliki harta kekayaan yang banyak, sedang aku tidak memiliki harta sebanyak itu" Maka hendaklah ia mencari dan memperhatikan dengan seksama orang yang sedang berada dalam kesulitan, tidak berdaya, dan kelaparan. Dengan demikian akan datang kepada dirinya rasa syukur kepada Allah swt, yakni Allah swt telah menyelamatkannya dari keadaan seperti itu.

Dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda, "Janganlah kalian memandang orang yang banyak memiliki harta, tetapi pandanglah orang-orang yang lebih rendah dari kalian, sehingga tidak akan timbul perasaan mengecilkan karunia Allah swt yang ada padamu."
(Kitab: Misykat)

Abu Dzar Al-Ghifari radiyallahu anhu berkata, "Kekasihku, Rasulullah saw telah
menasihatiku dengan tujuh perkara:
  1. Aku diperintahkan agar menyayangi fakir miskin dan bergaul dengan mereka.
  2. Aku diperintahkan agar tidak memandang orang yang lebih tinggi (kaya) dariku, dan agar aku memandang keadaan orang-orang yang lebih rendah dariku.
  3. Aku diperintahkan agar menyambung silaturahmi, walaupun orang yang aku datangi itu berpaling dariku, menghindar dariku, menjauhiku, dan tidak mempedulikan aku, atau sombong terhadapku (dalam kitab At-Targhib dikatakan, "Walaupun orang itu menzhalimiku.")
  4. Aku diperintahkan agar tidak meminta apa-pun dari orang lain.
  5. Aku diperintahkan agar mengatakan yang haq kepada orang lain, walaupun terasa pahit.
  6. Aku diperintahkan agar tidak mempedulikan celaan siapa pun untuk mendapat ridha Allah swt (tetap mengamalkan sesuatu yang disukai oleh Allah swt, walaupun orang-orang jahil mencelanya).
  7. Aku diperintahkan memperbanyak bacaan

لا حول ولاقوة إلا بالله
, sebab kalimat itu diturunkan dari sebuah khazanah yang khusus di bawah Arsy." (kitab: Misykat)

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ada dua hal yang jika menjadi tabiat seseorang, maka Allah swt akan menggolongkan orang itu sebagai orang-orang yang bersyukur, yakni seseorang yang memandang orang yang lebih tinggi derajatnya dari segi agama, lalu ia berusaha mengikuti jejak orang itu. Sedangkan dalam segi dunia, ia memandang orang yang lebih rendah darinya (hanya dengan kasih sayang dan karunia-Nya sajalah) ia telah memperoleh kehidupan yang lebih baik, maka ia menjadi orang yang bersabar dan bersyukur kepada Allah swt. Dan barangsiapa yang memandang orang yang lebih rendah darinya dari segi agama sehingga ia berkata, "Fulan tidak beramal seperti aku" Sedangkan dari segi dunia, ia memandang orang yang lebih tinggi (kaya) darinya (lalu ia mengeluh mengapa ia tidak memiliki harta yang banyak seperti Fulan itu), maka ia tidak akan digolongkan kepada orang yang sabar dan tidak dianggap sebagai orang yang bersyukur. (Misykat)

Aun bin Abdillah rahmatullah alaih berkata, "Dahulu, ketika aku bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku selalu dikuasai oleh perasaan gelisah. Karena jika aku melihat pakaian mereka lebih mahal dari pakaianku, aku merasa malu dan sedih. Begitu juga jika melihat kuda orang lain lebih baik dari kudaku. Kemudian ketika aku menemani serombongan fakir miskin, barulah aku dapat selamat dari kegelisahan itu." (kitab Ihya’).

Alim ulama menulis bahwa seseorang itu hendaklah lebih baik menikahi wanita muslim dan jangan memilih anak orang kaya sebagai istrinya, karena barangsiapa menikahi wanita anak orang kaya, maka ia akan terperangkap dalam lima musibah:

  1. Ia mesti membayar mas kawin yang mahal.
  2. Berlebih-lebihan dalam acara bulan madu.
  3. Sulit mendapatkan pelayanan darinya.
  4. Memerlukan perbelanjaan yang besar.
  5. Menjadi halangan baginya untuk menceraikannya karena rasa tamak terhadap hartanya.

Istri sebaiknya lebih rendah dari suami dalam empat hal (kitab Ihya’). Jika tidak, maka suami akan dipandang hina oleh istrinya, yaitu dalam:

  • Umur
  • Tinggi badan
  • Harta
  • Kemuliaan

Dan lebih tinggi dari suami dalam empat hal:


Yang lebih penting daripada memandang orang yang lebih rendah dari segi harta ialah memandang orang yang lebih rendah dari segi rupa dan kesehatan. Seseorang telah menjumpai ahli wara', lalu ia mengadukan tentang kemiskinannya dan menunjukkan kesedihan yang berlebihan dengan berkata bahwa ia ingin mati saja karena kesusahannya itu.

Ahli wara' bertanya kepadanya, “Apakah engkau rela memberikan kedua matamu untuk selama-lamanya, dan kamu akan diberi sepuluh ribu dirham sebagai gantinya?"

Maka ketika orang itu menolak, ahli wara' bertanya lagi, "Baiklah, engkau akan diberi sepuluh ribu dirham, dan sekarang lidahmu saja yang akan dicabut, bersediakah engkau?"

Ketika ia juga menolak, ahli wara' berkata, "Tidak mengapa, bagaimanakah jika kaki dan tanganmu saja yang dipotong, dan engkau akan mendapat dua puluh ribu dirham, apakah engkau bersedia?" Ia pun menolak.

Ahli wara' bertanya, "Bersediakah engkau menerima sepuluh ribu dirham dan otakmu dirusak sehingga engkau menjadi gila?" Orang itu pun menolaknya.

Ahli wara' berkata, "Tidak malukah engkau mengadukan tentang kemiskinanmu, padahal menurut pengakuanmu sendiri, Allah swt Yang Mahasuci telah memberimu harta yang bernilai lebih dari lima puluh ribu dirham?"

Ibnu Samak rahmatullah alaih menjumpai seorang raja. Ketika itu, di tangan raja ada segelas air. Raja berkata kepada Ibnu Samak, "Berilah aku nasihat"

Ibnu Samak berkata, "Seandainya segelas air yang ada di tanganmu itu hanya dapat engkau miliki jika engkau membelinya dengan harga seluruh wilayah kekuasaanmu, dan jika engkau tidak membelinya engkau tidak akan dapat minum air dan akan mati kehausan. Apakah engkau sanggup membeli segelas air ini seharga seluruh wilayah kekuasaanmu untuk menyelamatkan nyawamu?"

Raja menjawab, "Tentu, aku bersedia memberikan seluruh wilayah kekuasaanku sebagai bayaran segelas air ini, jika keadaannya memang demikian."

Ibnu Samak berkata, "Lalu bagaimana engkau merasa puas dengan memiliki kerajaan yang hanya bernilai segelas air saja?"

Dari permisalan ini dapat direnungkan bahwa setiap orang diberi karunia oleh Allah swt, yang tidak ternilai harganya. Semua ini adalah nikmat umum yang diberikan kepada seluruh manusia. Jika direnungkan dengan lebih mendalam, maka akan disadari bahwa setiap orang mempunyai kelebihan khusus yang tidak diberikan Allah kepada orang lain.

Tuesday, April 14, 2015

Pentingnya Ingat Mati

Dunia Islam - Ibnu Umar radiyallahu anhuma berkata, "Apabila tiba waktu shubuh maka janganlah menunggu waktu petang. Dan jika tiba waktu petang, janganlah mengharap untuk melihat waktu shubuh. Ketika kamu sehat, maka akan menghasilkan pahala bagimu ketika kamu sakit. Dan persiapkanlah bekal untuk mati selagi kamu masih hidup." (kitab Misykat)


tausiah

Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata, "Suatu ketika, kami bersama Rasulullah saw mengikuti jenazah. Setibanya di tanah pekuburan, Rasulullah saw duduk di dekat sebuah kubur, lalu beliau bersabda, "Tidak berlalu satu hari pun di dalam kubur kecuali kubur akan mengatakan dengan fasih dan jelas, “Wahai anak Adam, mengapa kamu melupakan aku, padahal aku adalah tempat kesunyian, aku adalah rumah pengasingan, aku adalah .tempat yang penuh dengan ulat dan cacing. Aku adalah tempat yang sangat sempit kecuali bagi orang yang dikehendaki Allah swt, maka aku menjadi luas." Setelah itu Rasulullah bersabda, "Kubur merupakan sebuah taman dari taman surga atau sebuah lembah dari lembah neraka."

Sahl radiyallahu anhu berkata, "Seorang sahabat meninggal dunia. Semua orang memujinya sebagai orang yang banyak beribadah. Rasulullah mendengarkannya sambil terdiam. Ketika semua diam, maka Rasulullah saw bertanya, "Pernahkah orang itu mengingat mati?" Para sahabat menjawab, " la tidak pernah berbicara mengenai mati." Rasulullah bertanya, "Apakah ia melawan nafsunya sendiri (misalnya, ia tidak memakan sesuatu yang ia inginkan)?" Mereka menjawab, "Tidak pernah" Nabi bersabda, "Sahabatmu ini tidak akan mencapai derajat setinggi derajat kalian, jika kalian mengamalkan dua masalah tersebut (yakni banyak mengingat mati dan menahan nafsu)."

Sebuah hadits menyebutkan bahwa di majelis Rasulullah saw telah dibicarakan mengenai ibadah dan mujahadah seorang sahabat. Kemudian Rasulullah bertanya, "Berapa kali, ia mengingat mati?" Para sahabat menjawab, "Tidak pernah terdengar pembicaraan mengenai mati darinya." Sabda Nabi, "Kalau begitu, ia tidak berada di derajat sebagaimana yang kalian sangka." Barra' radiyallahu anhu berkata, "Kami bersama Rasulullah untuk menyertai upacara pemakaman jenazah. Setibanya di sana, Rasulullah duduk di dekat sebuah kubur lalu menangis agak lama, sehingga bumi dibasahi oleh air mata beliau yang penuh berkah. Rasulullah bersabda, "Saudara-saudaraku, buatlah persiapan untuk kubur." (kitab At-Targhib).

Syaqiq bin Ibrahim rahmatullah alaih berkata, “Ada 4 hal dimana manusia mengaku sama, tetapi pengakuan mereka berlawanan dengan perbuatannya”

1. Mereka berkata bahwa mereka adalah hamba Allah, tetapi perbuatan mereka seperti orang-orang yang bebas.
2. Mereka berkata bahwa menjadi tanggung jawab Allah swt untuk menyampaikan rezeki kepada mereka, tetapi hati mereka merasa tidak tenang ketika benda dunia tidak ada pada mereka.
3. Mereka berkata bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia, tetapi mereka tetap sibuk memikirkan dan mengumpulkan harta dunia (tanpa memikirkan akhirat) .
4. Mereka berkata bahwa mati adalah kepastian dan tidak diragukan lagi kedatangannya, tetapi amal mereka seperti orang yang yang tidak akan mati."

Abu Hamid Lafaf rahmatullah alaih berkata, "Barangsiapa banyak mengingat mati, maka ia akan mendapatkan tiga jenis kemuliaan:

1. Taufik untuk segera bertaubat.
2. Mudah untuk qana’ah (merasa puas dengan apa yang ada dalam harta.
3. Bersungguh-sungguh dan merasa senang dalam beribadah.

Dan barangsiapa yang melalaikan maut, maka ia akan ditimpa tiga musibah:

1. Lalai untuk bertaubat.
2. Tidak berpuas hati dengan penghasilannya (pendapatannya selalu dianggap tidak mencukupi walaupun bertambah banyak) .
3. Malas beribadah.

Imam Ghazali rahmatullah alaih berkata, "Segala puji bagi Dzat Yang Mahasuci, Yang telah menghancurkan leher orang-orang zhalim dan kejam dengan kematian. Dan telah mematahkan pinggang raja-raja besar dengan kematian. Dan telah membinasakan harapan raja-raja dari simpanan- simpanan mereka dengan kematian. Mereka adalah orang-orang yang membenci berbicara tentang kematian.

bawah home