-->

Tuesday, November 25, 2014

Rahasia Abu Nawas Memilih Jalan Secara Tepat

Atas kecerdikan Abu Nawas, rombongan Raja dan pasukannya tidak jadi tersesat. Bagaimana bisa? Begini kisahnya.

Di tengah kesibukan mengatur urusan pemerintahan, Raja Harun Ar-Rasyid merasa jenuh. Namun bukan karena kenaikan BBM yang menyebabkan Beliau merasa penat. Hehe.. Sang Raja berkeinginan mengadakan kunjungan wisata ke sebuah hutan yang tersohor indahnya. Tak lupa, sang raja mengajak Abu Nawas untuk ikut menyertai perjalanannya. Raja Butuh seorang pemandu, dan ide-ide bagus saat dalam perjalanan.

Dan yang lebih penting adalah agar tidak tersesat dalam perjalanan. Karena menurut berita yang tersiar, untuk menuju hutan yang indah tersebut ada dua jalan. Jika salah memilih, bukan sampai ke tempat yang dituju melainkan mereka akan tersesat dan tidak akan menemukan jalan keluar. Bahkan, jalan salah akan mengantarkan mereka ke sarang binatang buas seperti singa, harimau, dan sebagainya. Dan juga rawa yang dihuni oleh ratusan ular mematikan.


abu nawas
photo: wilddingo.com

Maka Abu Nawas pun dipanggil untuk menghadap raja.

"Saya bersedia, Tuan Raja,". Jawab Abu Nawas atas permintaan tersebut. Maka rombongan mereka berangkat dengan naik keledai di pagi hari. Riang sekali suasana dalam perjalanan. Bercengkerama dan saling canda mengisi perjalanan mereka.

Pada petang hari tanpa disadari, mereka telah menempuh hampir separuh perjalanan. Mereka tiba di sebuah pertigaan yang sangat jauh dari perkampungan. Keraguan timbul di hati semua orang yang ikut dalam rombongan. Mereka semua terdiam, berfikir.


singa hutan
photo: pixabay.com

Akhirnya Abu Nawas pun mengangkat suara. "Tuan Raja, Sebaiknya perjalanan ini kita batalkan. Sebaiknya kita pulang saja.".

Tidak bisa begitu, Abu nawas! Apa alasannya?". Raja bertanya.

"Hamba kawatir, dengan memilih jalan yang salah, kita akan tersesat dan dimakan binatang buas. Bukankah wajib bagi kita untuk meninggalkan perkara yang meragukan?" Kata Abu Nawas.

Dalam situasi yang mencengangkan, serta cahaya yang mulai gelap. Teman Abu Nawas angkat bicara, " Tersebar berita, ada 2 orang aneh yang tinggal di balik semak itu, Mereka adalah saudara kembar.". kata pengawal istana yang juga teman Abu Nawas.

"Apakah engkau kenal dengan mereka?" tanya AbuNawas.
"Tidak, mereka memiliki wajah serupa, seorang di antaranya selalu berkata jujur dan saudaranya selalu berkata dusta". jawabnya.

"Baiklah, jika begitu sebaiknya kita istirahat dulu, setelah ini kita datangi si kembar," kata Abu Nawas.

Maka Abu Nawas, Raja dan semua prajurit beristirahat sebentar sambil makan. Kemudian mereka melaksanakan sholat maghrib. Setelah itu, semua menuju ke tempat tinggal si kembar tersebut. [Kisah lain: Abu Nawas Melarang Ruku' dan sujud saat shalat..]

Tiba di depan gubuk usang, seorang di antar rombongan mengetuk pintu.

"Saya sangat sibuk saat ini, kalian hanya boleh mengajukan 1 pertanyaan saja dan saya akan menjawabnya.". kata penghuni gubuk.
Abu Nawas mendekatkan mulutnya ke telinga orang tersebut sambil berbisik. Si kembar yang keluar rumah tadi menjawab dengan berbisik juga. Kemudian Abu Nawas pamit untuk meneruskan perjalanan.

"Tuan Raja, Kita harus mengambil jalan sebelah kanan,". kata Abu Nawas.

"Bagaimana engkau yakin untuk mengambil jalan arah kanan? Sedangkan engkau tidak tahu, apakah ia seorang jujur atau pendusta?". Sanggah Raja.

"Wahai Tuan, orang tadi menunjukkan jalan arah kiri," kata Abu Nawas.

Raja masih tidak mengerti penjelasan Abu Nawas yang aneh.

"Jangan main-main, Abu Nawas". Raja bingung.

"Sudahlah tuan Raja, pernahkah saya menyesatkan tuan?"

Akhirnya Raja menyerah, mereka pun menuruti perkataan Abu Nawas. Ternyata benar, jalan yang dilalui oleh mereka menuju ke Hutan indah yang diimpikan.

Namun, raja tetap saja penasaran terhadap keputusan Abu Nawas yang aneh.

"Sekarang jelaskan padaku tentang keputusanmu". Tanya raja.
"Begini tuan, saya bertanya kepada orang tadi, 'Apa yang akan diucapkan saudaramu jika aku menanyakan jalan yang menuju hutan indah?'. Ternyata jawabannya adalah sebelah kiri.
 
Jika ia seorang jujur, "Si jujur mengatakan jalan kiri, karena tahu bahwa saudara kembarnya selalu berkata bohong."

Jika yang ditanya adalah kembar yang pendusta. "Si pendusta menyebut jalan kiri, karena ia tahu kalau saudara kembarnya selalu berkata benar.". (Baca Berulang-ulang supaya faham).

Raja pun gembira dan memberi sebuah hadiah istimewa kepada Abu Nawas.
Continue Reading...

Thursday, October 9, 2014

Ibarat Goa dan Ujung Lorongnya

Suatu ketika di pondok pesantren  al hikmah, pak kyai sedang menyampaikan tausiah kepada santri-santrinya. Tutur beliau, "Para santriku, dunia ini gelap dan kubur itu terang! Apa kalian semua setuju?" Serentak hampir semua santri menjawab, "Setuju!"

Pak Kyai melanjutkan, "Nah, bagi kalian yang setuju dengan pernyataan saya, silahkan balik ke kamar kalian.". Maka, dengan suara gaduh para santri pun balik ke kamar masing-masing, kecuali tiga orang yang belum beranjak dari tempat duduknya (ketiga santri tersebut duduk paling depan dan tidak mengantuk selama mendengar tausiah dari pak kyai). Melihat ketiga santri itu tidak beranjak dari tempatnya, Pak Kyai bertanya, "Mengapa kalian tidak pergi? Kalian tidak setuju dengan pernyataan saya?

"Begini, kyai. Kami penasaran dengan ungkapan Kyai tadi. Dunia yang nyata terang, malah dibilang gelap, sedangkan kubur yang sudah nyata gelap malah dibilang terang, apakah ungkapan Kyai itu tidak terbalik?" jawab salah seorang santri. Pak Kyai menjawab sambil tersenyum, "Tidak, santriku. Saya tidak keliru dengan ucapanku tadi."

"Baiklah, jika kalian ingin mengetahui jawabannya mari ikut saya." Pak Kyai membawa ketiga santri tadi ke mulut sebuah goa yang gelap. Ketiga santri tadi semakin bertambah keheranan dan penasaran. Pak Kyai berucap kepada ketiga santri, "Masukilah goa itu dan jika kalian menemukan kerikil di dalamnya, ambillah.".

Perumpamaan dunia ibarat Goa

Ketiga santri itu semakin bengong dan bingung oleh instruksi Kiyai. Santri yang pertama berfikir, "Aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya, aku tak akan membawa apa-apa. Mengapa Kiyai menyuruh untuk mengerjakan hal aneh dengan mengambil kerikil, bukannya membekali saya dengan senter atau obor!"

Santri kedua agak ragu-ragu dengan perintah Kiyai. Ia berfikir, "Ah, saya akan mengambil sedikit saja kerikil itu. Daripada enggak sama sekali! Kalau ambil banyak, berat bawanya".

Santri ketiga berfikir, "Apa pun yang diperintahkan Kyai, bagi saya -sami’na wa atha'na- saya akan mengambil kerikil itu."

Singkat cerita, ketiga santri tersebut memasuki goa. Pak Kyai sudah menunggu di ujung mulut goa. Ketika melihat kemunculan ketiga santrinya, Kyai berkata, "Silahkan kalian membuka hasil bawaan kalian dari dalam goa tadi."

Goa gelap, ujungnya terang

Ketika melihat bawaannya, Ketiga santri itu langsung pingsan. Ternyata kerikil itu adalah intan permata!. Setelah ketiga santri itu siuman, Pak Kyai menjelaskan,

"Itulah jawaban dari pernyataan saya pada ceramah tadi. Dunia yang saya bilang gelap, seumpama goa yang gelap, sedangkan ujung goa (di luar goa) itu seperti kubur, karena memang terang. Dan kerikil! yang ternyata intan permata itu ibarat bekal amal kita masing-masing yang kita bawa ketika di dunia (goa) yang serba gelap ini."

Pak Kyai melanjutkan, "Setiap orang akan menyesal ketika sudah sampai di alam kubur (sudah meninggal dunia), karena ternyata semua manusia akan menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat yang membutuhkan bekal berupa amal shalih. Bagi orang yang tidak membawa perbekalan berupa amal shalih, akan celaka selamanya, bagi yang membawa bekal amal shalih sedikit, akan menyesal karena tidak membawa lebih banyak. Bagi yang sudah membawa bekal amal shalih yang banyak, juga menyesal. Kenapa tidak membawa lebih banyak bekal lagi? Pendek kata, kita semua akan menyesal. Namun, penyesalan saat itu tiada artinya.".

Jadi silahkan kalian memilih, membawa bekal banyak atau sedikit. Atau tidak bawa bekal sama sekali.
Continue Reading...

Friday, September 19, 2014

Pandanglah Siapa yang Memerintah, Bukan Isi Perintah

Sobat Dunia Islam, Kehidupan dunia ini bersifat fana, tidak kekal. Saat seseorang tertawa, kelak dia akan menangis juga. Adakalanya sakit, di lain hari sehat. Tak selamanya hidup penuh kesenangan, kenikmatan. Ada musibah, cobaan, ujian, penderitaan dsb. Jadi pola fikir seorang muslim yang benar adalah apa yang membuat Ridlo Alloh Ta'ala. Bukan apa yang mengasyikkan, apa yang membuat kita puas.

Pandangan mukmin berbeda dengan orang kafir. Apa yang ada dalam Qur-an semuanya benar. Tentu saja pemahaman tersebut kita pelajari dari seorang ulama yang ahli di bidangnya. Karena tidak mungkin kita memahami Al-quran tanpa belajar dari ulama, karena kita tidak pernah berjumpa langsung dengan nabi saw. Nabi telah mewariskan ilmunya kepada para sahabat r.hum. Kemudian para sahabat mengajarkan kepada para tabi'in dan seterusnya.

Sebagian orang terlalu gegabah, dengan menafsirkan apa yang ada dalam Qur-an maupun hadits. Padahal mereka hanya membaca satu atau dua hadits saja. Misalnya aja adzan bagi bayi yang baru lahir. Memang hal ini tidak tercantum dalam quran, namun di dalam hadits ada. Atau larangan makan daging anjing, memang tidak ada dalam qur-an, namun nabi melarangnya.

Perlu kita fahami, kadang lantaran rawi hadits lemah sebagian orang menolaknya. Ingat sobat, lemahnya rawi kadang cuma gara-gara perawi pernah berbohong sekali, atau pernah ketahuan kencing dengan berdiri, dsb. Jadi, banyaklah bertanya mengenai masalah fikih, masa'il kepada para ulama hadits, muhaditsin. Kita ini orang awam, tidak pernah ngaji di pesantren, hari-hari hanya mahir dalam keduniawian. Jadi bagaimana mungkin kita putuskan masalah yang sama sekali bukan bidang kita?

Beriman kepada Alloh, kepada nabi saw, kepada kitab Alloh, para malaikat, hari akhir, takdir, adalah yakin 100% tanpa keraguan. Iman kepada nabi saw membuat kita yakin dengan semua perkataan beliau, lebih dari keyakinan kita terhadap perkataan seseorang yang tidak beriman. Misalnya begini, kita yakin keberadaan planet saturnus dari berita yang disampaikan oleh orang-orang. Padahal tidak semua orang jujur, di antara mereka ada pembohong. Tapi kenapa kita merasa begitu yakin bahwa planet tersebut benar-benar ada? Seharusnya kita lebih yakin berjuta-juta kali lipat bahwa akhirat memang ada, karena yang menyampaikan berita ini adalah orang yang tidak pernah berkata dusta seumur hidupnya, yaitu baginda nabi saw.

Kembali ke masalah amalan. Nabi perintahkan kita untuk memperdengarkan adzan kepada bayi yang baru lahir, juga kepada mayat sekali pun. Masuk akalkah perkara ini? Bagi orang munafik tentu tidak! Bayi belum bisa berbuat apa-apa kok diajak sholat. Mayat yang sudah tidak bergerak emang bisa ambil air wudlu? Itulah iman. Pandangan orang beriman beda dengan orang yang tidak beriman, atau orang yang punya penyakit di hatinya.

Semua perintah Alloh, maupun Rasulullah saw tentu ada hikmahnya. Laksanakan semampu kita, baik faham atau pun tidak. Karena hakikat perintah dalam agama ini hanya Alloh dan orang yang diberi kefahaman yang tahu.

Begitu pula perintah sholat Jum'at. Biar orang kafir mencibir, "apa dengan jongkok, berdiri, sujud, bisa membuat ketampanan kamu bertambah?". Ya sudahlah, biarkan saja mereka karena mereka tidak mengerti. Do'akan saja mereka dapat hidayah. Seseorang yang tersesat di hutan, tidak tahu jalan keluar yang benar kecuali ada seorang yang memberi tahu.


Hukum Sholat Jumat

Sobat, marilah kita perbanyak rasa takut kepada Alloh, bermunajat, isthigfar, sholawat kepada nabi saw, dan banyak mengingat maut. Nasihat seperti apa pun tiada berguna, jika kita tidak ingat kematian, sesuatu yang pasti kita alami. Kematian menyebabkan kita berpisah dari harta, anak cucu, kemewahan, kekuasaan, dan segala yang kita punya saat ini.
Continue Reading...

Thursday, August 14, 2014

Perkataan Abu Nawas Yang Bikin Heboh

Abu Nawas terkenal sebagai orang bijak. Ia sering menyelipkan sindiran-sindiran atas kezaliman melalui candaannya. Ada kisah mengenai Abu Nawas tentang kehebohan orang-orang di pasar, lantaran celotehnya. “Teman-teman, hari ini saya harus mengatakan dengan jujur bahwa saya benci terhadap perkara Haq (kebenaran), dan Jujur aja saya senang dengan fitnah”, Tutur Abu Nawas kepada orang-orang di pasar.

Celoteh Abu Nawas menjadi trending topic di Twitter, Facebook dan beberapa media social lainnya. Eh, ngaco.. Zaman itu belum marak orang menggunakan fb maupun BBM, apalagi Wassap. Jelasnya, ucapan beliau sangat ramai menjadi pembahasan utama di masyarakat.


Kisah Lucu Abu Nawas

Padahal selama ini, beliau dikenal ketakwaan dan kebijaknnya, meski kadang terkesan jenaka. Ucapan Abu Nawas terdengar oleh aparat kepolisian Kerajaan, sehingga ia ditangkap dan dihadapkan kepada Khalifah.


“Abu Nawas, saya mendengar kabar bahwa engkau berkata demikian, benar begitu?” selidik Khalifah.

“Sangat Benar, Baginda,” ujarnya dengan santai.
“Mengapa engkau berkata demikian, apa sudah kafir engkau?”
“Saya rasa Khalifah pun sama dengan saya. Khalifah pasti membenci perkara yang haq,” ujarnya.
“Gila benar engkau ini,” bentak sang Khalifah mulai berang.
“Jangan buru-buru marah dulu, Khalifah. Dengarkan dulu penjelasan saya,” kata Abu Nawas kepada Khalifah.
“Penjelasan apa yang akan engkau dakwahkan. Sebagai Muslim, aku harus membela Perkara yang haq, bukan malah membencinya, tahu tak?” ujar Khalifah mulai geram.
Begini baginda, “Setiap ada yang membacakan talqin kepada mayat, saya selalu mendengar ucapan bahwasanya mati itu haq, demikian pula dengan neraka. Tidakkah khalifah juga membencinya seperti saya?”.

“Hmm, begitu rupanya, masuk akal”. ujar Khalifah setelah mendengar penjelasan Abu Nawas.

“Tapi apa maksudmu dengan mengatakan bahwa engkau suka fitnah?” tanya khalifah menyelidik.

“Begini, Khalifah. Mungkin Anda lupa bahwa di dalam Al-Quran disebutkan bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal Khalifah menyenangi harta dan anak-anak Khalifah seperti saya. Benar begitu, Khalifah?”

 “Perkataanmu memang benar, tetapi apa maksudmu menyatakannya di tengah pasar sehingga membuat keributan?” tanya khalifah tak juga mengerti.
“Dengan cara begini saya akan ditangkap dan dihadapkan pada Khalifah,” jawabnya tenang.
“Apa perlunya kamu menghadapku?”

“Agar memperoleh hadiah dari Khalifah,” jawab Abu Nawas tegas.
“Dasar orang pintar,” sahut khalifah. Sidang yang semua tegang untuk mengadili Abu Nawas tersebut menjadi penuh dengan gelak tawa. Tak lupa khalifah memberikan uang sebagai hadiah kepada Abu Nawas dan menyuruhnya meninggalkan istana. Abu Nawas ngeloyor pergi, sambil menyimpan dinar di sakunya. “Alhamdulillah, dapat rejeki lagi,” gumamnya.
Continue Reading...

Friday, July 18, 2014

Idul Fitri Sering diSalah Artikan

Apa kabar sobat dunia islam? Tanpa terasa bulan Romadlon hampir meninggalkan kita. Sebagai seorang mukmin, tentunya kita merasa sedih atas kepergiannya. Belum tentu kita berjumpa dengannya kembali di tahun yang akan datang. Moga Alloh Azza Wa Jalla masih Mempertemukan kita dengan ramadan tahun depan.

Berlalunya ramadan sudah pasti artinya kita masuk bulan syawal. Nah yang ditunggu – tunggu oleh semua kaum muslimin adalah hari raya ‘idul fitri. Sedikit kita bahas tentang makna ‘idul fitri.

Sebagian besar dari kita sering mengartikan ‘idul fitri dengan kembali suci. Bahkan ini sering kita dengar hampir di setiap khutbah sholat ‘ied di seluruh tanah air. Umumnya kita menerima informasi, bahwa di hari ‘idul fitri kita kembali suci seperti bayi baru lahir. Karena semua dosa telah diampuni.

Idul fitri sendiri berasal dari dua kata; id [arab:
عيد] dan al-fitri [arab:الفط ]


Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ibnul A’rabi mengatakan,

سمي العِيدُ عيداً لأَنه يعود كل سنة بِفَرَحٍ مُجَدَّد

Hari raya dinamakan id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru. (Lisan Al-Arab, 3/315).

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah [arab: العادة], yang artinya kebiasaan. Karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka. (Tanwir Al-Ainain, hlm. 5).
Selanjutnya kita akan membahas arti kata fitri.

Perlu diberi penekanan, bahwa fitri 'tidak' sama dengan fitrah. Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak masyarakat indonesia menyangka bahwa itu dua kata yang sama. Untuk lebih menunjukkan perbedaannnya, berikut keterangan masing-masing,

Pertama, Kata Fitrah

Kata fitrah Allah sebutkan dalam Al-Quran,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30).

Ibnul Jauzi menjelaskan makna fitrah,

الخلقة التي خلق عليها البشر

“Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut.” (Zadul Masir, 3/422).

Dengan demikian, setiap manusia yang dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah. Telah mengenal Allah sebagai sesembahan yang Esa, namun kemudian mengalami gesekan dengan lingkungannya, sehingga ada yang menganut ajaran nasrani atau agama lain. Ringkasnya, bahwa makna fitrah adalah keadaan suci tanpa dosa dan kesalahan.

Kedua, kata Fitri

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadhan.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya

1. Hadis tentang anjuran untuk menyegerahkan berbuka,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Kata Al-Fithr pada hadis di atas maknanya adalah berbuka, bukan suci. Makna hadis ini menjadi aneh, jika kata Al-Fithr kita artikan suci.

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berSUCI dengan terbitnya bintang”

Dan tentu saja, ini keluar dari konteks hadis.

2. Hadis tentang cara penentuan tanggal 1 ramadhan dan 1 syawal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Hari mulai berpuasa (tanggal 1 ramadhan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari raya 1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. Turmudzi 697, Abu Daud 2324, dan dishahihkan Al-Albani).

Makna hadis di atas akan menjadi aneh, ketika kita artikan Al-Fithr dengan suci.

“Hari suci adalah hari dimana kalian semua bersuci”.dan semacam ini tidak ada dalam islam.

Karena itu sungguh aneh ketika fitri diartikan suci, yang sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab.

idul fitri

Suci Seperti Bayi?

Selanjutnya kita bahas konsekuensi dari kesalahan mengartikan idul fitri. Karena anggapan bahwa idul fitri = kembali suci, banyak orang keyakinan bahwa ketika idul fitri, semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, semua dosanya diampuni dan menjadi suci.

Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan yang sangat fatal. Setidaknya ada 2 alasan untuk menunjukkan salahnya keyakinan ini,

Pertama, keyakinan bahwa semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, dosanya diampuni dan menjadi suci, sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasa kaum muslimin telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang meraka lakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada satupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak.

Terkait dengan penilaian amal, ada 2 hal yang perlu kita bedakan, antara keabsahan amal dan diterimanya amal.

1. Keabsahan amal.

Amal yang sah artinya tidak perlu diulangi dan telah menggugurkan kewajibannya. Manusia bisa memberikan penilaian apakah amalnya sah ataukah tidak, berdasarkan ciri lahiriah. Selama amal itu telah memenuhi syarat, wajib, dan rukunnya maka amal itu dianggap sah.

2. Diterimanya amal

Untuk yang kedua ini, manusia tidak bisa memastikannya dan tidak bisa mengetahuinya. Karena murni menjadi hak Allah. Tidak semua amal yang sah diterima oleh Allah, namun semua amal yang diterima oleh Allah, pastilah amal yang sah.

Karena itulah, terkait diterimanya amal, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Memohon kepada Allah, agar amal yang kita lakukan diterima oleh-Nya. Seperti inilah yang dilakukan orang shaleh masa silam. Mereka tidak memastikan amalnya diterima oleh Allah, namun yang mereka lakukan adalah memohon dan berdoa kepada Allah agar amalnya diterima.

Siapakah kita diandingkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Seusai memperbaiki bangunan Ka’bah, beliau tidak ujub dan memastikan amalnya diterima. Namun yang berliau lakukan adalah berdoa,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Allah, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat dan generasi pengikut mereka. Yang mereka lakukan adalah berdoa dan bukan memastikan.

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma›arif, Ibnu Rajab, hal.264)

Karena itu, ketika bertemu sesama kaum muslimin seusai ramadhan, mereka saling mendoakan,

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Inilah yang selayaknya kita tiru. Berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan bukan memastikan amal kita diterima.

Kedua, sesungguhnya ramadhan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad 9197 dan Muslim 233).

Kita perhatikan, ibadah besar seperti shalat lima waktu, jumatan, dan puasa ramadhan, memang bisa menjadi kaffarah dan penebus dosa yang kita lakukan sebelumnya. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan syarat: ‘selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Adanya syarat ini menunjukkan bahwa amal ibadah yang disebutkan dalam hadis, tidak menggugurkan dosa besar dengan sendirinya. Yang bisa digugurkan hanyalah dosa kecil.

lebaran

Lantas bagaimana dosa besar bisa digugurkan?

Caranya adalah dengan bertaubat secara khusus, memohon ampun kepada Allah atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah tunjukkan hal ini dalam Al-Quran,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31).

Allahu a’lam

sumber: konsultasisyariah.com
Continue Reading...
 

dunia islam Copyright © 2009 |Privacy Policy|WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template