-->

Thursday, December 18, 2014

Abu Nawas, Pukulan Pun Berubah Jadi Dinar!

Suatu hari Abu Nawas sedang berbincang-bincang dengan raja Harun Ar Rasyid. Di tengah percakapan yang seru, mendadak muncul ide sang raja "Setauku, ibu Abu Nawas sudah meninggal. Akan aku uji kepandaiannya kali ini. Apakah ia bisa  membawa ibunya ke istana. Jika ia berhasil membawanya, aku akan memberi Abu Nawas hadiah 100 dinar emas".

"Wahai, Abu Nawas. Aku ingin agar engkau membawa ibumu ke istana, besok pagi. Sebagai imbalannya jika berhasil, aku beri engkau hadiah berupa 100 dinar emas". Titah sang raja.


abu-nawas

Bukan main kagetnya, Abu Nawas. "Bagaimana raja ini, beliau kan sedah tahu kalau ibuku sudah meninggal dunia? Kenapa memerintahkan kepadaku untuk mengajaknya ke istana?" fikir Abu Nawas dalam hati.

Namun, bukan Abu Nawas namanya, kalau tidak sanggup melakukannya. "Baik, tuanku. Besok pagi, saya akan membawanya ke sini" jawab Abu Nawas dengan tegas dan mantap. Kemudian, ia segera pamit untuk pulang.

Tiba di rumah, ia berlalu setelah menghabiskan makanannya. Ia menelusuri setiap sudut negeri, lorong, dan kampung. Yang dicari Abu Nawas adalah seorang nenek tua yang akan dijadikannya sebagai ibu angkat.

Ternyata tidak mudah untuk mendapatkan sosok wanita tua. Setelah keringat bercucuran karena perjalanan yang melelahkan, akhirnya ia menemukan sosok perempuan yang menurutnya sesuai untuk dijadikan ibu angkat. Seorang nenek yang sedang menjual kue apem di pinggiran jalan dihampirinya.

"Wahai, ibu. Maukah engkau aku jadikan sebagai ibu angkat?" tanya Abu Nawas.

"Apa maksudmu berkata demikian? Apa tujuanmu?" tanya nenek.

Abu Nawas pun menceritakan urutan kejadian sehingga ia punya keinginan tersebut. Abu Nawas bermaksud hendak membagi hadiah dari raja menjadi dua, untuknya dan nenek.

"Baiklah, aku menyanggupi permintaanmu"

Abu Nawas pun memberi nenek sebuah tasbih. Ia berpesan kepadanya untuk segera menghitung untaian tasbih itu, ketika tiba di hadapan raja. Jika raja menanyakan apapun kepada si nenek, hendaknya jangan dijawab. Jangan sampai, rencana ini gagal! Maka, digendonglah si nenek menuju istana.

"Baiklah anakku, semoga Alloh memberi keberkahan padamu," ucap si ibu tua.
"Dan khususnya kepada Ibuku.." sahut Abu Nawas.

Esok harinya, Abu Nawas dan nenek telah tiba di istana raja. Abu Nawas melontarkan salam.

"Wa 'alaikumussalam, Abu Nawas," jawab raja. Kemudian, raja melihat ke arah Abu Nawas yang sedang menggendong ibu tua. Raja amat terkejut.

"Siapa ini, Abu Nawas?" tanya raja. "Inikah ibumu? tapi engkau datang ke sini terlalu siang, kenapa?"

"Benar, baginda, inilah ibu saya, beliau sudah tua dan kakinya pun lemah, tidak mampu berjalan ke sini. Padahal rumahnya sangat jauh sekali. Itulah kenapa saya menggendongnya," kata Abu Nawas seraya mendudukkan nenek tua di hadapan raja.

Setelah duduk, nenek itu pun segera memegang tasbih di tangannya. Segera ia menghitungnya tanpa henti, meski raja melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya. Tentu saja ini membuat raja tersinggung, "Ibumu sangat tidak sopan, Abu Nawas!"

"Apa yang dia sebutkan tiap butir tasbih itu?"

"Ampun, tuanku, suami ibu saya ini jumlahnya ada 99 orang. Beliau sedang menghafal nama-nama mereka satu persatu, dan tiada berhenti sebelum selesai menyebut semuanya."

Mendengar kata-kata Abu Nawas tadi, wanita tua itu pun segera melemparkan tasbihnya dan berkata kepada raja. "Tuanku, raja. Sejak muda hingga kini hamba cuma punya satu orang suami. Sebenarnya, menghitung-hitung biji tasbih adalah permintaannya. Begitu juga, tidak menjawab pertanyaan dari tuanku. Abu Nawas berjanji untuk membagi hadiah yang akan ia terima dari tuan menjadi dua."

Mendengar ucapan wanita tua itu, raja tertawa terpingkal-pingkal dan menyuruh pengawal untuk mendera Abu Nawas sebanyak 100 kali.

Ketika perintah raja akan dilaksanakan, Abu Nawas berkata "Tuanku, hukuman macam apa, yang akan tuan jatuhkan kepada saya?"

"Engkau telah gagal menjalankan perintahku, Abu Nawas" kata raja.

"Benar, paduka. Saya telah berjanji kepada wanita tua ini untuk membagi dua, hadiah yang akan engkau berikan kepada saya. Namun,  karena sekarang saya akan mendapat pukulan, hadiah ini juga harus dibagi menjadi dua. Karena yang bersalah berjumlah dua orang. Saya sih terima aja dengan hukuman ini. Namun, tuan harus bertindak adil kan?

Raja bergumam dalam hati, "Hmm, jangankan dipukul sebanyak 50 kali. Sekali pukulan saja, wanita tua ini tidak akan mampu untuk berdiri lagi."

Raja pun memberi 50 dinar kepada wanita tua itu sambil berpesan kepadanya supaya tidak mudah percaya kepada Abu Nawas jika lain kali ia menemuinya. Dengan penuh gembira, diterimanya hadiah itu, sambil melihat ke arah Abu Nawas.

"Baginda, ampun beribu ampun. Jika ibu hamba telah mendapat anugerah dari baginda, tidak adil kiranya jika anaknya ini dilupakan begitu saja."
"Hahaha.., ya sudah, terimalah juga bagianmu," ujar raja sambil tersenyum, "Ini…"
Semua orang yang menyaksikan, tertawa dalam hati. Setelah itu, Abu Nawas pamit untuk pulang ke rumah. Demikian pula wanita tua itu dan semua yang hadir di Balairung, dengan perasaan masing-masing.
Continue Reading...

Wednesday, December 17, 2014

Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja

Abu Nawas adalah sosok yang dicintai oleh rakyat. Bahkan, ketenarannya mengalahkan raja Harun. Kecerdikan Abu Nawas sudah diketahui oleh semua orang. Raja Harun Ar Rasyid pun mengakui kepandaian Abu Nawas dalam banyak hal. Raja sering meminta bantuan kepada Abu Nawas dalam menyelesaikan banyak masalah kenegaraan, hingga pribadi. Hingga pada akhirnya, sang raja berkeinginan mengajak Abu Nawas untuk tinggal bersamanya di istana.

Abu Nawas diberi kebebasan untuk masuk istana, tanpa prosedur yang rumit. Dengan adanya Abu Nawas di istana, raja tidak bingung lagi ketika hendak meminta pendapat atau pun solusi darinya. Abu Nawas kini dijadikan sebagai penasehat raja.

Sekian lama tinggal di istana, timbul kebosanan di hati Abu Nawas. Ia tidak biasa dengan gaya hidup serba mewah. Berfoya-foya bukanlah kebiasaannya. Meski semua keinginannya disediakan, namun Abu Nawas tidak betah tinggal di istana. Ia ingin berada di luar istana. Abu Nawas rindu terhadap sawah ladangnya, hewan ternak, dan kampong halamannya.

Oleh karenanya, terbersit keinginan di hati sang Mullah untuk meninggalkan istana, dengan segala kemewahannya. Maka, sang Mullah memutar otaknya untuk menemukan cara keluar dari istana.

Hingga larut malam Abu Nawas akhirnya dapat memejamkan mata, mencari cara yang jitu. Mencari alasan yang tepat.

Esok harinya, ia menuju ke ruang utama istana. Suasana ruangan masih sepi, hanya ada beberapa orang pengawal raja. Raja masih tidur di kasurnya. Abu nawas bergerak mendekati singgasana raja dan duduk di atas kursi raja. Tidak berhenti disitu. Bahkan, Abu Nawas mengangkat sebelah kakinya untuk ditaruh di atas kaki satunya. Abu Nawas berlagak seolah raja.


AbuNawas

Melihat gelagak Abu Nawas yang dianggap tidak sopan ini, para pengawal segera menangkapnya. Tiada seorang pun yang boleh duduk di atas singgasana, kecuali baginda sendiri. Hal ini dianggap kejahatan besar, resiko hukuman mati bagi yang melanggarnya.

Para pengawal menyeret Abu Nawas untuk turun dari singgasana tersebut, kemudian mereka memukulinya.

Abu Nawas pun berteriak dan mengerang kesakitan, hingga membuat raja terbangun dan datang menghampirinya.

"Hai pengawal, ada apa ini? Kenapa kalian memukuli Abu Nawas?" tanya raja.
"Ampun, paduka. Abu Nawas telah berbuat lancang dengan duduk di atas singgasana tuanku, kami pun terpaksa memukulinya," jawab salah satu pengawal.

Sesaat kemudian, Abu Nawas mendadak menangis. Ia menangis histeris dan berteriak keras sekali sehingga seluruh penghuni istana mendengarnya.

"Benarkah yang dituduhkan oleh pengawal kepadamu, hai Abu Nawas?" tanya Raja Harun.
 
"Benar, tuanku," jawab Abu Nawas.

Mendengar jawaban itu, raja terkejut. Menurut peraturan, siapa saja yang duduk di singgasana selain raja, akan diberi hukuman mati. Bagaimana pun, raja tidak tega terhadap Abu Nawas, mengingat jasa yang sangat banyak terhadap kerajaan.

"Sudahlah, berhentilah menangis. Aku tidak bakalan menghukum engkau, Abu Nawas" ucap sang raja.

"Wahai, tuanku. Sebenarnya bukan kesakitan atau hukuman yang aku tangisi. Hamba menangis karena iba terhadap engkau, paduka" ucap Abu Nawas, hingga membuat raja tercengang.
"Kenapa justru engkau merasa iba terhadapku?" tanya raja.

Abu Nawas pun menjawab,
"Wahai, tuanku. Hamba hanya duduk di singgasana sekali saja, namun mereka memukuliku dengan sangat keras. Tuanku telah mendudukinya selama 20 tahun. Pukulan sekeras apa, kelak akan paduka terima? Malang sekali nasib engkau, tuanku" jawab Abu Nawas.

Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tercengang dan bengong. Namun, raja faham maksud kata-kata Abu Nawas.

Raja tidak menghukum Abu Nawas dengan hukuman mati, cuma mengeluarkannya dari lingkungan istana.

"Baiklah, sekarang engkau boleh keluar dari istana ini" Ucap raja.
"Terima kasih, tuanku. Akhirnya engkau mengerti keinginanku" sahut Abu Nawas seraya menjabat tangan Raja Harun dan pamit untuk segera keluar dari istana.
Continue Reading...

Tuesday, December 16, 2014

Abu Nawas Menghitung Kematian Tahanan

Kisah ini dimulai dengan diadakannya hajatan besar-besaran di negeri Seribu Satu Malam. Tersebutlah nama raja Harun Ar-Rasyid yang punya niat untuk merayakan pesta hari jadi kerajaan. Raja berniat untuk merayakan pesta bersama dengan rakyatnya. Dan, hari yang dinanti telah tiba! Rakyat telah berkumpul di depan Pendapa Kerajaan.

Beberapa saat rakyat menunggu, akhirnya sang raja mengeluarkan beberapa patah kata, sambil berdiri,

"Wahai rakyatku, dengarkanlah! Aku akan memberikan hadiah kepada fakir miskin. Di hari perayaan ini, aku juga memberi pengampunan bagi para tahanan berupa keringanan hukuman. Mereka yang telah menjalani hukuman penjara, mendapatkan remisi selama setengah dari masa hukuman yang belum ia jalani." Seru raja di hadapan rakyat.

Rakyat sangat gembira mendengar pengumuman yang langsung disampaikan oleh baginda tersebut. Suka ria, gelak tawa, dan sendau gurau sambil menyantap makanan dan minuman yang telah disiapkan untuk acara pesta tersebut.

Beberapa saat kemudian, acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah yang dilaksanakan oleh para pegawai kerajaan. Hadiah diberikan kepada fakir miskin. Setelah semua fakir miskin mendapatkan bagiannya, kemudian baginda memanggil para tahanan satu per satu.

Giliran pertama jatuh kepada seorang tahanan yang bernama Sofyan. Maka, raja mengajukan pertanyaan,
 
"Siapa namamu?" tanya raja.
"Nama hamba Sofyan, paduka" jawab tahanan tersebut.
 
"Sofyan, berapa lama hukuman yang telah divonis untukmu?" tanya baginda.
"Hamba divonis selama 2 tahun penjara, paduka" jawab Sofyan.
"Berapa lama kamu sudah melewati hukuman itu?" tanya raja lagi.
"Hari ini terhitung satu tahun, baginda," jawab Sofyan.

"Ketahuilah, sisa hukuman yang harus kamu jalani mendapatkan remisi sebanyak setengah dari masa yang belum kamu lewati di penjara. Jadi, kamu hanya menjalani hukuman selama 6 bulan saja di penjara" Ucap raja secara Tegas.

Selanjutnya.. Tahanan kedua dipanggil menghadap ke depan.

"Dengan panggilan apa, aku menyebutmu?" Tanya baginda raja.
"Saya dilahirkan dengan nama Ali, paduka" Jawab tahanan kedua.

"Berapa tahun hukuman yang telah dijatuhkan kepadamu, Ali?" tanya raja.

Dengan wajah sendu, haru dan sedih, Ali pun menjawab,
"Ham.. mba, hamba divonis hukuman seumur hidup hamba, paduka" Jawab Ali penuh ratapan.

Sontak saja, raja gelagapan dan bingung untuk memberi keputusan.

Dalam kebingungan, raja segera teringat kepada Abu Nawas yang sangat cerdik. Maka, Abu Nawas pun dipanggil untuk maju ke depan.

Tidak begitu lama, Abu Nawas yang ikut hadir di acara itu segera maju ke depan untuk menghampiri baginda.

"Wahai, Abu Nawas. Aku sebagai raja kalian, harus bertindak adil terhadap keputusanku. Aku harus memberi keringanan hukuman kepada Ali. Namun, bagaimana aku tahu sisa umur Ali? Sekarang, beri aku nasehat terbaikmu. Bagaimana cara mengampuni Ali, terkait sisa masa tahanannya?" Tutur raja.

Menghadapi permasalahan ini, Abu Nawas pun ikut bingung. Abu Nawas benar-benar kehilangan akal, kali ini. Ia tidak tahu, berapa sisa umur Ali! (Mungkin pembaca ada yang tahu? Hehe..)

"Hamba minta tenggat waktu, untuk menyelesaikan masalah ini, tuanku" Ucap Abu Nawas pada akhirnya.

Raja langsung menyanggupi permintaan Abu Nawas. Raja memberi kesempatan bagi Abu Nawas untuk memikirkan masalah ini. Namun, waktu yang diberikan kepada Abu Nawas tidaklah lama, Cuma sehari semalam saja. Esok pagi, Abu Nawas harus mampu memecahkan masalah ini.

Gong pun berbunyi sebagai pertanda bahwa pesta hari ini telah usai. Diumumkan kepada rakyat bahwa besok akan ada lagi pesta hari kedua. Maka, rakyat pun bubar untuk pulang ke rumah masing-masing.


AbuNawas


Tiba di rumahnya, Abu Nawas berfikir sangat keras. Hingga larut malam, ia tidak bisa memejamkan mata. Hingga suatu saat.. Ahaa! Abu Nawas pun tersenyum, kemudian memejamkan matanya.

Pagi telah tiba. Abu Nawas segera berangkat menuju Pendapa Istana setelah menyelesaikan sholat subuh.

Rakyat telah berkumpul lagi di Pendapa istana. Abu Nawas pun maju ke depan untuk menghampiri raja dan tahanannya.

"Abu Nawas, Apakah sudah ditemukan caranya?" Tanya raja kepadanya.

"Mudah aja, tuanku. Bebaskan Ali dari hukuman pada hari ini. Esok hari, penjarakan ia. Lusa dan seterusnya demikian juga. Penjarakan lagi, dan bebaskan lagi selama sehari. Hal ini berlaku sepanjang hayat Ali" Tutur Abu Nawas.

"Luar biasa, benar sekali engkau. Abu Nawas, karena jasamu kali ini aku akan memberimua hadiah. Pengawal, bawa kemari sekantong keping emas. Berikan kepada Abu Nawas!". Perintah baginda diringi kegembiraan.

Setelah pesta bubar, Abu Nawas dan rakyat pulang ke rumah mereka. Abu Nawas pulang membawa sebagian hadiah yang ia terima, karena sebagian telah ia bagikan kepada yang berhak.
Continue Reading...

Sunday, December 14, 2014

Abu Nawas Diusir oleh Raja!

Nasib apalagi kali ini yang dialami oleh Abu Nawas. Gara-gara mimpi buruk raja Harun Ar Rasyid tadi malam, ia diusir dari tanah tempat ia dilahirkan. Sungguh memprihatinkan sekali. Namun, apadaya rakyat biasa seperti Abu Nawas. Bagaimana juga, ia harus pergi meninggalkan kampung halamannya yang ia cintai.

Masih kuat di ingatan Abu Nawas, ucapan baginda raja yang ditujukan kepadanya. Kata-kata raja senantiasa terngiang di telinga,

"Semalam, aku bertemu dengan seorang lelaki tua di dalam mimpiku. Kakek itu memakai jubah berwarna putih. Kakek tua itu mengatakan sesuatu yang mencengangkan, bahwa negeri ini akan diterpa bala bencana jika orang dengan nama Abu Nawas masih bercokol di negeri ini. Abu Nawas harus diusir dari negeri ini, karena membawa sial. Ia boleh tinggal lagi di negeri ini dengan syarat tidak boleh dengan jalan kaki, merangkak, berlari, melompat, menaiki keledai atau binatang tunggangan lainnya"

Maka, Abu Nawas pergi meninggalkan rumahnya. Ia melangkah meninggalkan istrinya dengan membawa bekal secukupnya. Sang istri hanya bisa mengiringi kepergian Abu Nawas dengan tangis air mata yang berderai.

Tanpa terasa, sudah 2 hari perjalanan Abu Nawas dengan menaiki keledainya. Bekal yang ia bawa pun telah menipis. Sebenarnya, Abu Nawas tidak terlalu sedih atas pengusiran terhadap dirinya. Bahkan, ia tidak meresapinya sama sekali. Justru yang ia rasakan adalah sebaliknya. Abu Nawas semakin bertambah yakin bahwa Alloh, Sang Maha Perkasa akan melepaskannya dari kesulitan yang kini membelenggu dirinya. Bukankah Alloh merupakan sebaik-baik teman? Hal ini sangat dirasakannya, terutama di saat seperti ini.

Sudah beberapa hari ini, Abu Nawas tinggal di negeri orang. Ia tidak bisa mengelak dari rasa rindu yang mendalam kepada kampung halamannya. Rasa rindu yang menyayat hati, menderu-deru laksana dinginnya Jamharir yang sulit untuk dibendung.

Jalan keluar harus ia dapatkan dengan jalan berfikir. Namun, dengan cara apa ia harus lepas dari masalah ini? Berbagai tanya ia lontarkan dalam hati.

"Sebaiknya aku minta tolong kepada seseorang untuk menggendongku hingga tiba di kampung halaman. Namun, apakah ada yang sanggup dan sudi menolongku dengan cara itu? Hmm, bagaimana pun aku harus mampu menolong diriku tanpa bantuan dari orang lain"

Sekarang adalah hari ke sembilan belas. Di pagi ini, Abu Nawas telah menemukan sebuah cara untuk kembali ke kampung halaman tanpa melanggar larangan baginda raja. Setelah ia siap dengan rencananya itu, ia pun berangkat untuk melakukan perjalanan ke negerinya.

Rindu bercampur bahagia, senang dan haru berbaur jadi satu. Kerinduan yang melecut-lecut kalbu, semakin deras menerpa hati Abu Nawas. Semakin mendekati negerinya, rasa itu makin menjadi-jadi.

Mengetahui kedatangan Abu Nawas, seluruh penduduk negeri merasa sangat gembira. Kabar mengenai pulangnya Abu Nawas langsung menyebar ke segala penjuru tak ubah semerbak bunga yang harum menusuk hidung. Kabar ini sampai ke telinga baginda pada akhirnya. Sang raja juga merasa gembira, namun berbeda alasan dengan rakyat.


abunawas

Rakyat sangat mencintai Abu Nawas, oleh karenanya mereka gembira dengan kedatangannya. Sedangkan raja gembira, karena kesampaian juga menghukum Abu Nawas. Kali ini Abu Nawas tidak dapat mengelak dari hukuman.
 
Namun apa yang terjadi? Baginda sangat kecewa dan terpukul lantaran menyaksikan cara Abu Nawas pulang ke negerinya. Baginda tidak menyangka kalau ternyata Abu Nawas datang dengan bergelayutan di bawah perut keledai. Jadi, Abu Nawas sama sekali tidak melanggar larangannya dan lepas dari sangsi berupa hukuman. Abu Nawas tidak mengendarai keledainya, namun menggelantungkan dirinya.
Continue Reading...

Saturday, December 13, 2014

Abu Nawas Tidak Berdusta!

Suatu hari, sewaktu raja Harun Ar Rasyid melakukan ibadah haji. Ketika memasuki kota Kuffah, sang raja teringat kepada Abu Nawas. Beliau merasa rindu kepadanya.

Sang raja segera memerintahkan para pengawalnya untuk mencari Abu Nawas dan membawa ke hadapannya.

Raja memberikan amanah kepada para pengawal, supaya memberi pakaian berwarna hitam dan celanan panjang kepada Abu Nawas untuk ditaruh di atas kepala, jika ia telah ditemukan.

Dalam hati para pengawal, ini merupakan permintaan yang sangat aneh. Meski begitu, tetap saja mereka melaksanakan perintah itu.

Sekian lama mencari ke seluruh penjuru kota, Abu Nawas akhirnya ditemukan juga. Para pengawal raja membawanya untuk menghadap raja.

Setelah melakukan sebuah perjalanan cukup jauh, Abu Nawas dan para pengawal tiba di depan raja. Abu Nawas telah mengenakan pakaian hitam, serta celanan panjang yang dikenakan di atas kepalanya.

Tiba di depan raja, Abu Nawas langsung berkata,

"Wahai tuanku, Amirul Mukminin. Aku memohon kepada Allah SWT, semoga Dia memberi rezeki dan meluaskan anugerahNya kepada engkau,".

" Amiin, jazakalloh khoir Abu Nawas", jawab raja Harun Ar Rasyid.
Setelah peristiwa aneh itu, baginda raja segera pergi untuk melanjutkan perjalanannya, meninggalkan kuffah.

Para penduduk Kuffah sangat heran melihat sikap Abu Nawas tersebut. Mendo’akan orang yang telah menyuruhnya meletakkan celanan panjang di atas kepala.

"Hai, Abu Nawas. Seperti itukah caranya, engkau mendo’akan Amirul Mukminin?" tanya para warga yang menyaksikan peristiwa itu.

"Diam, kalian semua! Tak ada yang lebih disukai oleh Amirul Mukminin selain harta dan uang" jawab Abu Nawas tanpa beban.

Abu Nawas pun berlalu dari tempat itu.

Entah didorong rasa iri atau hendak mencari muka, ada seorang yang mengadukan ucapan Abu Nawas kepada raja yang menyebutkan bahwa raja menyukai harta dan uang.

Maka raja mengumpulkan mereka semua. Alangkah terkejut pelapor itu dengan jawaban atas ucapan Abu Nawas tersebut.


abunawas

"Sesungguhnya, ia tidak berdusta, Abu Nawas telah berkata benar,"

Orang yang melapor menjadi sangat malu oleh  kejadian ini.

Begitulah raja yang bijak, siap dikritik. Bahkan ikhlas menerima kritikan demi kemajuan akhlak dan iman.

Maksud Abu Nawas adalah mengingatkan kepada raja tentang cinta terhadap dunia. Jangan sampai cinta kita kepada dunia menyebabkan kita lalai untuk mengingat Allah Ta’ala.
Continue Reading...
 

dunia islam Copyright © 2009 |Privacy Policy|WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template