-->

Monday, July 30, 2012

6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa Bag 2

Ada Perkara-perkara yang sangat penting dijaga saat puasa. Pertama dan kedua sudah dijelaskan di depan. berikutnya..

Ketiga

Hal yang penting untuk diperhatikan oleh orang yang berpuasa adalah menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang makruh, yakni perkataan yang tidak boleh diucapkan oleh mulutnya, maka mendengarnya pun tidak boleh. Rasulullah saw. bersabda, "Dalam hal mengumpat, maka yang mengumpat maupun yang mendengarkannya keduanya sama-sama berdosa."

6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa Bag 2

Keempat

Jasad kita hendaknya dijauhkan dari dosa dan hal-hal yang haram. Tangan jangan menyentuhnya, kaki jangan berjalan ke arahnya, begitu juga anggota tubuh yang lain. Perut hendaknya dijaga agar tidak memakan makanan dan minuman yang haram maupun yang meragukan (syubhat) terutama ketika berbuka puasa. Orang yang berpuasa kemudian berbuka dengan makanan yang haram adalah ibarat orang yang sakit lalu makan obat yang dicampur dengan sedikit racun, memang obat itu akan bermanfaat, namun racun itu juga akan membinasakannya.

Kelima

Jangan makan terlalu kenyang ketika berbuka walaupun dengan makanan yang halal, karena dengan demikian tujuan puasa tidak akan tercapai. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi kekuatan nafsu syahwat dan kekuatan sifat hewaniyah serta meningkatkan kekuatan iman (nuraniyah) dan ketaatan (malakiyah) . Selama 11 bulan kita makan dan minum dengan bebas, maka apakah pengurangan makan pada bulan Ramadhan ini akan membahayakan jiwa kita?

Namun lihatlah keadaan puasa kita hari ini. Begitu banyaknya makanan yang masuk ke dalam perut kita ketika berbuka, seolah-olah sebagai pengganti makan pagi dan siang yang tertunda. Begitu juga dalam makan sahur, untuk mempersiapkan puasa pada siang harinya, bahkan saking banyaknya, sampai melebihi hari-hari biasa di luar Ramadhan. Cara makan yang demikian sebenarnya bertentangan dengan semangat Ramadhan dan tujuan berpuasa.

Imam Ghazali rah.a. berkata, "Tujuan puasa adalah untuk menundukkan kekuatan iblis dan hawa nafsu, bagaimana hal ini dapat dicapai dengan memperbanyak makan ketika berbuka? Pada hakikatnya kita hanya mengubah waktu makan saja, bukan menguranginya, bahkan kita semakin banyak menambah menu makanan yang tidak terdapat pada hari-hari biasa.". Banyak kebiasaan orang-orang di bulan Ramadhan menyimpan berbagai jenis makanan yang mahal dan enak dan setelah menjalani kelaparan di siang hari, mereka makan sekenyang-kenyangnya ketika berbuka, sehingga kekuatan hawa nafsu yang seharusnya menjadi lemah, malah semakin manjadi kuat, hal ini bertentangan dengan maksud dan tujuan puasa yang sebenarnya.

Di dalam puasa terdapat berbagai macam tujuan dan faedah yang ha-nya dapat diperoleh dalam keadaan lapar. Manfaat yang paling besar adalah menundukkan hawa nafsu. Hal ini juga dapat diperoleh apabila kita merasa lapar. Rasulullah saw. bersabda, "Syetan mengalir di dalam tubuh kita bagaikan aliran darah, maka tutuplah jalannya dengan berlapar."
Kekuatan rohani dan seluruh anggota tubuh bergantung kepada laparnya hawa nafsu. Selama nafsu dalam keadaan lapar maka rohani dan seluruh anggota tubuh lainnya akan menjadi kuat (terjaga), dan apabila hawa nafsu dalam keadaan kenyang maka rohani dan seluruh anggota tubuh akan menjadi lemah.

Selain tujuan tersebut, puasa pun menyadarkan diri kita akan keadaan kaum fakir miskin dan menjadikan kita dapat merasakan keadaan hidup mereka. Itu akan dapat kita peroleh apabila kita tidak terlalu memenuhi perut kita di waktu bersahur dengan makanan sehingga rasa lapar tiada terasa sampai berbuka kembali.

Suatu ketika seorang lelaki menjumpai Bisyr Hafi yang sedang gemetar kedinginan walaupun di sebelahnya tersimpan baju hangat. Lelaki itu bertanya, "Mengapa engkau menanggalkan pakaian ini?" Lalu Bisyr Hafi menjawab, "Begitu banyak orang yang miskin dan tidak dapat mencukupi kebutuhannya, aku tidak dapat bersimpati kepada mereka, sekurang-kurangnya yang dapat aku lakukan adalah merasakan keadaan seperti mereka." Para sufi dan para fuqaha menganjurkan sikap yang sama tatkala berpuasa. Pengarang kitab Maraqul Fatah menulis, "Janganlah makan terlalu banyak ketika bersahur seperti kebiasaan orang yang bersenang-senang, sehingga tujuan berpuasa tidak akan tercapai."

Allamah Tanthawi rah. a. menulis, "Sedikit merasa lapar dalam berpuasa adalah penyebab bertambahnya pahala." Begitu pula, kasih sayang dan simpati terhadap orang fakir dan miskin akan terpupuk. Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada yang lebih dibenci oleh Allah Swt. terhadap sesuatu yang diisi penuh kecuali seseorang yang memenuhi perutnya dengan makanan."

Pada kesempatan lain Rasulullah saw. bersabda, "Cukuplah dengan beberapa suap makanan yang dapat meluruskan punggung. Jika seseorang harus tetap melanjutkan makannya, maka tidaklah lebih dari kadar ini, yaitu sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi dibiarkan kosong (untuk udara) ." Rasulullah saw. pernah berpuasa berhari-hari tanpa mengambil makanan. Saya juga melihat ustadz saya Maulana Khalil Ahmad hanya makan sekeping roti yang tipis buatan sendiri ketika berbuka dan bersahur selama bulan Ramadhan. Ketika para sahabatnya mendesak agar makan lebih banyak, beliau berkata, "Aku tidak merasa lapar, aku duduk sambil makan hanyalah untuk menyambut kawan-kawanku."

Saya mendengar Maulana Abdur Rahim Raipuri sewaktu bulan Ramadhan beliau hanya minum secangkir teh tanpa susu dan tidak ada makanan lain ketika berbuka dan bersahur. Suatu hari pengikutnya yang paling dipercaya Maulana Abdul Qadir menegurnya dengan perasaan khawatir, "Tuan akan menjadi lemah jika tidak makan apa-apa." Maulana Raipuri pun menjawab, "Segala puji bagi Allah, aku sedang merasakan kelembutan surga." Semoga Allah memberi karunia kepada kita untuk mengikuti jejak langkah mereka yang mulia ini.

Bersambung ke

6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa Bag 3
Continue Reading...

Sunday, July 29, 2012

6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa

Para ulama telah menyebutkan enam perkara yang sangat penting untuk dijaga ketika berpuasa:

* Pertama

Hendaknya menjaga pandangan dari melihat hal-hal yang dilarang. Bahkan sebagian ada yang berpendapat bahwa melihat dengan perasaan nafsu terhadap istri sendiri pun dilarang, apalagi wanita lain. Juga hendaknya menghindari pandangan dari melihat hal-hal yang melalaikan.

Rasulullah saw bersabda, "Pandangan adalah satu anak panah dari panah-panah syetan. Barangsiapa takut kepada Allah, hindarilah melihat maksiat. Maka Allah mengaruniakan kepadanya cahaya iman yang kemanisan dan kelezatannya akan terasa di hati."

Para ahli sufi menafsirkan, bahwa termasuk pandangan yang harus dihindari yaitu melihat hal-hal yang mengalihkan perhatian seseorang kepada selain Allah.

6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa

* Kedua

Menjaga lidah dari dusta, perkataan sia-sia, mengumpat, perkataan kotor, menipu, bertengkar, dan sebagainya. Dalam Sahih Bukhari ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai bagi manusia. Oleh karena itu mereka yang berpuasa hendaknya menjauhi perkataan yang buruk dan perkataan yang bodoh, seperti: mengejek, bertengkar, dan sebagainya.

Apabila ada orang yang mengajak bertengkar, katakan saja, "Saya sedang berpuasa." Yakni tidak terpancing emosinya oleh perkataan orang yang mengajak bertengkar dengan mengatakan 'saya sedang berpuasa' kepadanya, jika ia orang yang mengerti. Jika ia orang bodoh dan tidak mengerti maka hendaknya kita memahamkan hati kita sendiri bahwasanya saya sedang berpuasa dan tidak pantas bagi saya menjawab perkataan yang sia-sia itu.

Hal yang sangat penting juga untuk dihindari yaitu membicarakan keburukan orang lain dan dusta, yang menurut sebagian ulama, puasa akan batal karenanya. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya.

Pada zaman Rasulullah saw. ada dua orang wanita yang sedang berpuasa tetapi tidak dapat menahan rasa lapar sehingga keduanya hampir wafat. Para sahabat memberitahu Nabi saw. mengenai hal ini, kemudian Rasulullah membawa sebuah mangkuk dan menyuruh mereka muntah ke dalamnya.

Ketika keduanya memuntahkan isi perutnya, keluarlah potongan-potongan daging mentah dan darah. Para sahabat sangat terkejut melihat peristiwa ini, lalu Rasulullah saw. bersabda, "Mereka berpuasa dari makanan yang halal tetapi memakan yang haram yaitu keduanya membicarakan keburukan orang lain."

Dari kandungan hadits ini dapat diketahui bahwa beban puasa akan lebih berat bila dibarengi dengan ghibah, sehingga kedua wanita itu hampir mati karena puasanya. Begitu pula bila dibarengi dengan perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Pengalaman menunjukkan bahwa puasa sangat ringan bagi orang yang bertakwa, sedangkan keadaan orang yang fasiq sangat buruk ketika berpuasa. Oleh karena itu, apabila mereka menginginkan supaya puasa tidak membebaninya, maka yang terbaik baginya adalah menghindarkan diri dari perbuatan dosa ketika berpuasa, terutama dari perbuatan ghibah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang dalam melewati masa-masa puasanya.

Allah Swt. mengungkapkan dalam al Qur-an bahwa berbuat ghibah itu bagaikan memakan daging saudaranya yang telah mati. Dalam beberapa hadits pun peristiwa seperti itu banyak diceritakan, bahwa orang yang membicarakan keburukan saudaranya, pada hakekatnya ia telah memakan dagingnya.

Suatu ketika Rasulullah saw. melihat beberapa orang kemudian beliau bersabda, "Cungkillah gigi-gigi kalian." Mereka berkata, "Pada hari ini kami tidak memakan daging apa pun." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Daging si fulan telah melekat pada gigi-gigi kalian."

Jelaslah bahwa mereka telah membicarakan keburukan si fulan tadi. Semoga Allah Swt. melindungi kita atas kelalaian mengenai hal ini. Jangankan masyarakat awam, orang alim pun tertimpa hal ini, selain di pertemuan orang-orang ahli dunia, dalam pertemuan orang-orang beragama pun tidak sedikit terjadi perbuatan ghibah. Ironisnya hal itu tidak disadari sebagai ghibah. Walaupun terkadang hati seseorang yang mendengarnya tidak mene- rima, namun hal itu akan ditutupinya dengan alasan bahwa hal itu benar- benar terjadi.

Salah seorang sahabat bertanya, "Apakah ghibah itu?" Rasulullah saw. menjawab, "Mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai di belakang orangnya." Selanjutnya sahabat itu bertanya, "Apakah masih dikatakan ghibah jika yang saya katakan itu memang benar terdapat pada dirinya?" Rasulullah saw. menjawab, "Bila benar demikian, maka sebenarnya itulah ghibah, sedangkan jika yang kamu katakan itu dusta, maka kamu telah memfitnahnya."

Suatu ketika Rasulullah saw. melewati dua buah kuburan, Rasulullah pun berkata, "Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Seorang disiksa karena membicarakan kejelekan orang lain, dan yang lainnya disiksa karena tidak berhati-hati ketika buang air kecil."

Rasulullah saw. juga bersabda, "Terdapat lebih dari 70 derajat dosa karena riba. Yang terendah adalah sama dengan melakukan zina dengan ibu sendiri, dan mengambil satu dirham dari riba adalah lebih buruk daripada berzina sebanyak 35 kali. Riba yang paling buruk adalah merusak kehormatan (nama baik) seorang muslim."

Banyak hadits yang memberi peringatan keras terhadap orang yang berbuat ghibah dan merusak kehormatan seorang muslim. Saya sangat ingin untuk mengemukakan hadits-hadits tersebut, karena apabila kita berkumpul, maka pembicaraan kita biasanya dipenuhi dengan maksiat (mengumpat dan memfitnah). Tetapi saya memutuskan untuk tidak mengemukakannya, ka- rena tema yang dibicarakan di sini adalah mengenai masalah lain, bukan bab ghibah. Saya hanya berdoa kepada Allah, semoga Allah Swt. melindungi kita dari kemaksiatan ini. Saya pun memohon kepada alim ulama dan sahabat- sahabat untuk mendoakan saya agar Allah melindungi saya yang banyak tertimpa penyakit rohani.

Kesombongan, kebodohan, kelalaian, hasad, buruk sangka, dusta, ingkar janji, riya, kebencian, ghibah, permusuhan.

Wahai Allah, penyakit manakah yang tidak ada pada diriku?
Sembuhkanlah aku dari segala penyakit dan
Tunaikanlah segala hajatku.
Sesungguhnya aku mempunyai hati yang berpenyakit.
Hanya Engkaulah penyembuh si sakit.

Bersambung... ke

6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa bag 2
6 Perkara yang Sangat Penting Dijaga Saat Puasa bag 3
Continue Reading...

Friday, July 27, 2012

Pengaruh Dusta dan Mengumpat Terhadap Puasa

Pengaruh Dusta dan Mengumpat Terhadap Puasa

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, dan banyak orang yang bangun (shalat) pada malam hari tetapi tidak memperoleh apa-apa dari shalatnya kecuali letih (karena berjaga malam)."

Pengaruh Dusta dan Mengumpat Terhadap Puasa

(Hr. Ibnu Majah, Nasai, Ibnu Khuzaimah)

Penjelasan
 
Mengenai penafsiran hadits di atas para ulama berbeda pendapat:

Pertama, hadits ini menyatakan tentang mereka yang berpuasa pada siang hari, tetapi berbuka dengan makanan haram, berapa pun banyak ganjaran puasanya namun tidak melebihi dosa besarnya karena makan makanan haram.
Kedua, hadits di atas menyatakan tentang orang-orang yang berpuasa tetapi masih tetap melakukan ghibah (membicarakan keburukan orang lain).

Ketiga, hadits di atas menyebutkan tentang orang-orang yang berpuasa tetapi mereka tidak mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa. Dalam hadits di atas tersirat segala kemungkinan dalam penafsirannya, termasuk tiga penafsiran di atas. Begitu pula halnya dengan orang yang berjaga di malam hari untuk mengerjakan shalat nafil, tetapi tetap membicarakan keburukan orang walapun sedikit, atau berbuat sesuatu kebodohan, misalnya mengqadha shalat Subuh atau bangun malam semata-mata karena riya atau ingin dipuji, maka seluruh amalnya sia-sia saja.

Pengaruh Dusta dan Mengumpat Terhadap Puasa

Dari Abu Ubaidah r.a. berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Puasa adalah sebagai perisai, selagi dia tidak rrmemecahkan perisai itu" (Hr. Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim)

Penjelasan

Yang dimaksud dengan 'Perisai' atau pelindung di sini adalah diumpamakan seperti manusia melindungi dirinya dengan perisai. Begitu juga orang yang berpuasa, ia akan dilindungi oleh puasanya dari serangan musuhnya, yaitu syetan. Dalam hadits yang lain diberitakan bahwa puasa dapat menyelamatkan orang yang melakukannya dari azab Allah. Riwayat lain menyebutkan bahwa puasa adalah pelindung dari api neraka Jahanam.

Suatu ketika seseorang telah bertanya kepada Rasulullah saw., "Apakah yang menyebabkan puasa itu batal (rusak)?" Rasulullah saw. menjawab, "Berkata dusta dan mengumpat." Selain hadits di atas, masih banyak hadits yang memperingatkan kepada kita agar menghindari perbuatan-perbuatan seperti itu ketika berpuasa yang menyebabkan puasa kita jadi sia-sia.

Di zaman sekarang ini, sambil menunggu berbuka puasa, kita suka membicarakan hal-hal yang membatalkan puasa, padahal perbuatan itu merupakan kebinasaan bagi diri kita. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa berkata dusta, memfitnah, mengumpat, dan lain sebagainya adalah membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum.

Tetapi sebagian besar ulama berpendapat, bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, tetapi hanya menghilangkan berkah atau pahalanya saja.
Continue Reading...

Seberapa Penting,, Makan Sahur?

Abdullah bin Harits r.a. meriwayatkan dari salah seorang sahabat, "Suatu ketika aku mengunjungi Rasulullah saw. ketika sedang makan sahur. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Inilah perkara yang penuh dengan keberkahan yang telah dikaruniakan Allah kepadamu. Janganlah kamu meninggalkannya."
Dalam berbagai riwayat, Rasulullah saw. sering memberikan dorongan untuk makan sahur, sehingga beliau bersabda. "Jika tidak ada apa-apa, maka bersahurlah walaupun dengan sebiji kurma atau seteguk air."

Seberapa Penting,, Makan Sahur?

Oleh karena itu orang yang berpuasa hendaknya bersungguh-sungguh dalam meraih keuntungan dan pahala makan sahur, yang merupakan kenyamanan dan kemanfaatan serta pahala bagi dirinya sendiri. Namun kesederhanaan adalah sesuatu yang sangat penting, karena mengurangi atau melebihi batas adalah sesuatu yang mendatangkan mudharat. Karena itu, jangan makan terlalu sedikit yang menyebabkan kita merasa lemah dalam beribadah, juga jangan terlalu banyak yang akan menyebabkan kesulitan bagi diri sendiri.

Banyak hadits yang mensyaratkan hal itu, diantaranya hadits yang menganjurkan makan sahur walaupun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air. Juga banyak hadits yang melarang kita makan berlebihan.

Hafizh Ibnu Hajar rah.a. dalam ulasannya mengenai Sahih Bukhari menyebutkan beberapa alasan mengenai keberkahan makan sahur:

1. Dengan bersahur berarti kita mengikuti sunnah. 2. Dengan bersahur kita membedakan diri kita dengan cara berpuasa Ahli Kitab, yang mereka tidak melakukannya. Kita selalu diperintahkan agar berbeda dengan mereka semampu kita.
3. Sahur akan menambah kekuatan untuk beribadah.
4. Sahur akan meningkatkan keikhlasan dalam beribadah.
5. Sahur menolong menghilangkan amarah akibat perasaan lapar.
6. Apabila seseorang yang membutuhkan datang kepada kita pada saat sahur, maka kita dapat menolongnya. Atau mungkin di antara tetangga kita ada yang fakir atau miskin, maka kita dapat membantunya.
7. Waktu sahur adalah waktu diijabahnya do'a.
8. Dengan bersahur akan menyebabkan seseorang mendapatkan taufik un- tuk berdoa dan berdzikir kepada Allah.

Dan masih banyak alasan lainnya yang menyatakan tentang keberkahan sahur.
Ibnu Daqiq al 'Ied rah.a. berkata, para ahli sufi mempermasalahkan tentang makan sahur ini, apakah hal itu tidak bertentangan dengan tujuan puasa? Karena menurut mereka tujuan puasa adalah memecahkan hawa nafsu perut dan kemaluan. Dengan demikian, makan sahur bertentangan dengan tujuan puasa tersebut. Namun yang benar adalah, kita dilarang makan sahur terlalu banyak sehingga menghilangkan kemaslahatan berpuasa, hal ini adalah kurang baik. Di samping itu, keadaan setiap orang berbeda-beda, demikian juga pekerjaan dan kemampuannya. Bagi sebagian orang makan sahur yang banyak akan menghasilkan kebaikan, sedangkan bagi yang lain tidak akan membahayakan walaupun makan sahur sedikit, jadi sesuai dengan keadaan dan keperluan masing-masing.

Mengenai hal ini saya berpendapat, pada dasarnya dalam makan sahur dan berbuka puasa adalah mengurangi makan, namun itu semua berubah-ubah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setiap orang. Misalnya, para pelajar yang sibuk mencari ilmu agama, maka bagi mereka sedikit makan (ketika sahur dan ifthar) semata-mata untuk memperoleh manfaat puasa adalah termasuk ke dalam perbuatan yang membahayakan. Oleh karena itu, yang terbaik bagi mereka adalah tidak mengurangi makan karena kepentingan ilmu agama dalam syariat adalah lebih ditutamakan. Begitu juga bagi para ahli dzikir dan orang-orang yang sibuk dalam kegiatan agama lainnya, mengurangi makan akan menyebabkan mereka tidak dapat melaksanakan kerja agama dengan sungguh-sungguh.

Suatu ketika Rasulullah saw. mengumumkan kepada orang yang pergi berjihad, "Tidak ada kebaikan dalam berpuasa ketika dalam perjalanan." Padahal puasa ketika itu adalah puasa bulan Ramadhan. Namun pada saat itu berjihad lebih penting daripada puasa. Adapun dalam melaksanakan kerja agama yang lebih penting daripada puasa namun tidak dikhawatirkan menyebabkan kelemahan dan kemalasan, maka mengurangi makan adalah sangat tepat.

Allamah Sya'rani rah.a. telah mengatakan dalam Syarah Igna, "Di kalangan kami telah dibuat suatu sumpah bahwa kami tidak akan memenuhi perut-perut kami dengan makanan hingga kenyang, terutama pada malam bulan Ramadhan. Adalah lebih baik jika seseorang makan lebih sedikit pada malam bulan Ramadhan daripada malam-malam yang lainnya. Karena apalah artinya berpuasa apabila perut sudah diisi makanan dan minuman sepenuh-penuhnya pada saat sahur dan berbuka."

Para Masyaikh mengatakan bahwa barangsiapa berlapar-lapar (karena puasa) pada bulan Ramadhan, maka akan diselamatkan dari godaan syetan sepanjang tahun itu hingga datang bulan Ramadhan berikutnya.

Selain nasihat di atas, masih banyak nasihat para ulama mengenai hal ini. Di dalam kitab Syarah Ihya Ulumiddin terdapat berbagai kisah mengenai pengalaman beberapa orang waliyyullah seperti Sahl bin Abdullah Tastari rah.a. yang hanya makan setiap lima belas hari sekali, dan pada bulan Ramadhan beliau hanya makan satu suap saja, tetapi karena menaati sunnah Nabi saw., beliau membuka puasanya dengan air setiap hari.

Syeikh Junaid senantiasa berpuasa sepanjang tahun. Tetapi apabila sahabat-sahabatnya (para waliyullah) datang berkunjung kepada beliau, beliau berbuka dan makan bersama-sama mereka sambil berkata, "Keutamaan berbuka puasa dan makan bersama-sama dengan sahabat-sahabat yang mulia seperti ini tidak kalah pahalanya daripada puasa nafil."

Masih banyak contoh perilaku kehidupan wali-wali Allah yang terbiasa makan hanya sedikit karena menahan hawa nafsu mereka. Akan tetapi hal ini hanya dapat dilakukan dengan syarat tidak mengurangi amalan-amalan agama yang penting.
Continue Reading...

Tuesday, July 24, 2012

Keberkahan Di Dalam Makan Sahur

Dari Ibnu Umar r. a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya mengirimkan rahmat kepada orang-orang yang makan sahur "

Keberkahan Di Dalam Makan Sahur

Betapa besar nikmat dan karunia Allah kepada kita sehingga dengan keberkahan puasa, makan sahur (makan sebelum fajar untuk berpuasa) pun dijadikan-Nya sebagai sesuatu yang berpahala, dan orang-orang Islam yang mengerjakannya akan diberikan ganjaran.
Banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan dan pahala makan sahur. Pengamat kitab Sahih Bukhari, Allamah 'Aini rah.a. meriwayatkan hadits mengenai keutamaan makan sahur dari 17 orang sahabat, dan menurut ijma' (kesepakatan para ulama) berpendapat bahwa sahur hukumnya adalah sunnat.

Keberkahan Di Dalam Makan Sahur

Banyak sekali orang yang karena kemalasannya, mereka luput dari keuntungan ini. Ada juga sebagian orang yang makan setelah shalat tarawih dan menganggapnya sebagai pengganti makan sahur. Setelah itu ia tidur, sehingga dia kehilangan pahala makan sahur yang sebenarnya. Karena menurut bahasa, sahur adalah memakan makanan menjelang fajar, sebagaimana ditulis dalam kamus bahasa. Sebagian ulama berpendapat bahwa waktu sahur dimulai sejak tengah malam (Mirqat).

Penulis kitab Al Kasyaf Imam Zamakhsyari berpendapat bahwa malam terbagi atas enam bagian, dan waktu sahur adalah seperenam terakhirnya. Apabila malam (setelah matahari terbenam hingga Shubuh) terdiri dari dua belas jam, maka dua jam yang terakhir adalah waktu yang tepat untuk makan sahur. Hendaknya diingat, bahwa makan sahur pada waktu yang paling akhir adalah lebih besar pahalanya daripada awal waktu, dengan syarat tidak terlalu mengakhirkannya sehingga mengakibatkan keraguan dalam berpuasa.

Masih banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan makan sahur. Rasulullah saw. bersabda, "Perbedaan antara puasa yang kita lakukan dengan puasa yang dilakukan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah dalam makan sahur yang mereka tidak melakukannya."

Rasululullah saw. juga bersabda, "Bersahurlah karena di dalamnya terdapat berkah yang besar." Dalam riwayat lain disebutkan beliau bersabda, "Terdapat keberkahan di dalam tiga hal, yaitu: dalam berjama'ah, dalam makanan 'tsarid' (roti yang dicampur dengan kuah), dan dalam sahur."

Perkataan jamaah' dalam hadits ini adalah bersifat umum, sehingga dapat disimpulkan bahwa perkataan 'jama'ah' itu termasuk shalat berjamaah dan setiap pekerjaan yang dilakukan orang-orang Islam secara berjamaah, karena pertolongan Allah datang kepada orangorang yang selalu berjama'ah. Tsarid adalah roti yang matang yang dicampur dengan daging, yang merupakan makanan yang lezat.

Hal ketiga yang disebutkan dalam hadits ini adalah makan sahur. Apabila Rasulullah saw. mengundang para sahabat untuk makan sahur, beliau selalu bersabda, "Marilah makan makanan yang penuh berkah ini bersama-sama denganku."

Dalam sebuah hadits dikatakan, "Bersahurlah sehingga engkau mendapat kekuatan dalam puasamu. Dan tidurlah setelah tengah hari (qailulah) untuk membantumu bangun pada akhir malam (untuk ibadah)."
Continue Reading...

Kenapa Do'a Tidak Terkabul?


Dari Ubadah bin Shamit r.a., sesungguhnya pada suatu hari,, ketika Ramadhan hampir tiba, Rasulullah saw., bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, di mana Allah melimpahkan keberkahan, menurunkan rahmat dan mengampuni dosa-dosamu, menerima doá-doámu, melihat atas perlombaan kamu (dalam kebaikan) dan membanggakanmu di hadapan Para malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah Swt kebaikanmu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah dia yang terhalang dan rahmat Allah pada bulan ini." (Hr. Thabrani)

Penjelasan:

'Tanafus' adalah semangat dalam mengerjakan sesuatu karena melihat yang lain dan berlomba-lomba dalam usaha untuk mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada yang lain.

Dan Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Tiga jenis orang yang doá mereka tidak ditolak; doá orang yang berpuasa hingga ia berbuka, do'anya seorang imam (pemimpin) yang adil, dan doa orang yang dizhalimi, karena Allah mengangkat doanya itu melintasi awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit dan Allah berfirman, `Aku bersumpah demi kemuliaan-Ku, sesungguhnya Aku pasti menolongmu walaupun pada suatu hari nanti." (Hr. Ahmad)

Dalam kitab Durrul Mantsur ada sebuah riwayat dari Aisyah r. a. bahwa apabila bulan Ramadhan tiba, berubahlah wajah Rasulullah saw.. Beliau akan menambah shalatnya, lebih tawadhu' (merendahkan diri) dalam doá-doánya, dan lebih nampak rasa takutnya kepada Allah Swt.. Menurut riwayat lain, Aisyah r.a. memberitahukan bahwa Rasulullah saw. tidak mendatangi tempat tidurnya hingga berakhir Ramadhan. Dalam satu riwayat diberitahukan bahwa di bulan Ramadhan Allah Suit. memerintahkan Para malaikat pemikul Arasy, "Tinggalkanlah ibadah kalian masing-masing dan aminkanlah doá orang yang berpuasa."


Dari riwayat-riwayat tersebut diketahui keistimewaan-keistimewaan doá pada bulan Ramadhan yang dikabulkan. Siapa pun tidak dapat mengingkari hal ini. Apabila Allah Swt. yang berjanji dan Rasululullah saw. sendiri yang memberitahukan hal itu, maka hendaknya jangan ada keraguan sedikitpun untuk membenarkannya. Namun terkadang sebagian orang berdoa untuk maksud tertentu, tetapi tidak terwujud. Maka janganlah dipahami bahwa do'anya tidak diterima.

Bahkan hendaklah dimengerti tentang makna penerimaan doa tersebut. Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seorang muslim berdoa dengan syarat tidak memutuskan silaturrahmi atau berdoa untuk suatu dosa, maka dia pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga hal yang Allah janjikan: Apakah dia akan memperoleh langsung apa yang dimintanya, atau dia akan dijauhkan dari suatu keburukan atau musibah sebagai pengganti dari apa yang dimintanya, atau dia akan memperoleh pahala dari doanya di akhirat kelak sebagai simpanan baginya.

Dalam hadits lain dikatakan bahwa pada hari Kiamat Allah akan memanggil hamba-Nya serta bertanya kepadanya, "Wahai hamba-Ku, bukankah Aku pernah menyuruhmu berdoa kepada-Ku dan Aku berjanji untuk mengabulkannya, apakah engkau pernah berdoa kepada-Ku?" Hamba Allah itu menjawab, "Ya, aku pernah berdoa." Kemudian Allah berfirman, "Tidak ada satu pun doa-doa yang kamu mohonkan yang tidak diterima. Kamu berdo'a agar suatu bencana dijauhkan, maka telah Aku penuhi di dunia. Kamu berdoa agar duka citamu dihilangkan tetapi kamu tidak merasakan pengaruh do'amu itu sedikit pun, maka sebagai gantinya sekarang Aku tetapkan bagimu ganjaran dan pahalanya."

Rasulullah saw. bersabda bahwa orang tersebut pertama-tama akan diingatkan tentang do'a-do'anya dan akan ditunjukkan kepadanya bagaimana caranya do'a-do'a itu disempurnakan, apakah di dunia atau akan diberikan di akhirat. Ketika orang itu melihat ganjaran yang demikian banyak, maka ia pun berharap agar tidak ada satu pun do'anya yang dikabulkan di dunia sehingga dapat diterima sepenuhnya di akhirat.

Maksudnya, bahwa sesungguhnya do'a adalah sesuatu yang sangat penting dan melalaikannya adalah merupakan kerugian yang sangat besar. Dari sini jelaslah, walaupun kita tidak mengetahui sedikit pun tanda-tanda terkabulnya do'a di dunia, hendaknya kita tidak merasa putus asa dan berkecil hati.

Dari sebuah hadits yang panjang dapat diketahui, bahwa dalam mengabulkan do'a ini, Allah Swt. senantiasa melihat kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Apabila dalam memberikan sesuatu itu ada kemaslahatan baginya, maka Allah akan memberinya, jika tidak ada, maka Allah tidak akan memberinya. Ini juga merupakan karunia Allah yang besar, karena terkadang kita meminta sesuatu yang tidak cocok dengan diri kita karena ketidakfahaman kita.

Selain itu, ada hal yang sangat penting untuk diperhatikan, banyak kaum lelaki atau wanita yang secara khusus terkena penyakit (kebiasaan buruk), yaitu dalam keadaan marah atau kecewa terkadang dia mendo'akan kejelekan (mengutuk) kepada anaknya atau orang lain. Ingatlah, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. bahwa ada satu saat khusus yang mana do'a apa pun akan dikabulkan pada saat itu. Terkadang karena kebodohannya, dalam keadaan marah seseorang telah mencelakakan anaknya sendiri dengan kutukan atau do'a jeleknya. Apabila anaknya mati atau tertimpa suatu musibah, barulah ia menangis meratapi anaknya dan tidak terfikir olehnya bahwa musibah ini datang karena do'a jeleknya.

Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kamu berdoa jelek terhadap diri sendiri, anak-anak, harta benda, dan para pembantu kamu karena di sisi Allah Swt. ada suatu saat tertentu yang pada saat itu setiap do'a dikabulkan. Diantaranya adalah sepanjang bulan Ramadhan yang di dalamnya penuh dengan saat-saat mustajab. Maka penting sekali berusaha untuk menghindar dari berdo'a jelek pada bulan Ramadhan ini.
Umar r. a. meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa barangsiapa mengingat Allah pada bulan Ramadhan, maka dosanya akan diampuni dan barangsiapa meminta kepada Allah, maka permintaannya tidak akan ditolak.


Dalam kitab at Targhib, Ibnu Mas'ud r.a. meriwayatkan bahwa setiap malam bulan Ramadhan seorang penyeru dari langit akan berseru, "Wahai pencari kebaikan, mendekatlah dan tingkatkanlah amal kebaikanmu. Wahai pencari maksiat, berhentilah dan bukalah matamu (insaflah )"

Kemudian malaikat itu menyeru, "Adakah pencari keampunan, agar dia diampuni? Adakah yang bertaubat, agar taubatnya diterima? Adakah yang berdoa, agar doanya dikabulkan? Adakah yang meminta, agar permintaannya dipenuhi?"

Pada akhir uraian ini, ada suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu terdapat beberapa syarat untuk terkabulnya doa, yang apabila salah satunya hilang, kemungkinan do'a ditolak. Diantaranya adalah makanan yang haram dapat menyebabkan do'a ditolak. Rasulullah saw. bersabda, "Banyak sekali orang yang dalam keadaan susah berdo'a sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan berkata, "Ya Robbi, ya Robbi." Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dalam keadaan seperti itu bagaimana mungkin doanya akan diterima?

Para ahli sejarah menulis, di Kuffah ada sekelompok orang yang doa- nya mustajab. Apabila ada pemimpin yang zhalim menguasai mereka, maka mereka akan berdoa jelek untuknya sehingga dia binasa. Ketika Hajjaj yang zhalim berkuasa, ia mengadakan suatu jamuan makan yang secara khusus mengundang orang-orang tersebut. Setelah jamuan makan selesai, ia berkata, "Aku telah terlindung dari do'a jelek mereka karena makanan haram telah masuk ke dalam perut mereka."

Di zaman sekarang, hendaknya kita selalu memperhatikan kehalalan rezeki yang kita peroleh, karena pada zaman ini riba berlaku di mana-mana, dan para pekerja serta pedagang menganggap bahwa suap dan penipuan adalah hal yang wajar.
Continue Reading...

Sunday, July 22, 2012

3 Do'a Malaikat Jibril yang diAminkan Nabi

Dari Ka'ab bin Ujrah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda,

3 Doa Malaikat Jibril yang diAminkan Nabi

"Mendekatlah kalian ke mimbar!"

Lalu kami pun mendekati mimbar itu. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, "Amin."

Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, "Amin."

Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, "Amin."

Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata,

"Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya."

Rasulullah saw. bersabda, "Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata,

"Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan." Maka aku berkata, "Amin"

Ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata,

"Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu." Aku pun berkata, Amin.'

Ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata,

"Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga." Akupun berkata, Amin :"  (Hr. Hakim)

3 Do'a Malaikat Jibril yang diAminkan Nabi

Penjelasan:

Dalam hadits di atas, Jibril a.s. mendoakan keburukan terhadap tiga perkara dan ketiga do'a tersebut diaminkan oleh Rasulullah saw.. Padahal Jibril a.s. yang merupakan malaikat terdekat dengan Allah jarang berdo'a jelek seperti itu, kemudian Rasulullah saw. mengaminkannya, maka jelaslah betapapun kerasnya do'a keburukan ini, pasti akan dikabulkan oleh Allah Swt.. Semoga Allah Swt. dengan kemurahan-Nya memberikan kita taufik untuk menghindarkan dan menjaga diri kita dari keburukan itu. Jika tidak, pasti yang terjadi adalah kebinasaan. Dari sebagian riwayat yang ada dalam kitab Durrul Mantsur diketahui bahwa Jibril a.s. berkata kepada Rasulullah saw., "Katakanlah 'Amin'." Maka Rasulullah saw. bersabda, "Amin." Dari hadits itu dapat kita ketahui betapa hal itu sangat ditekankan.

Orang pertama yang disebut dalam do'a jelek itu ialah orang yang melewati masa-masa bulan Ramadhan namun tidak mendapatlan ampunan, yaitu walaupun berada dalam bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh kebaikan dan keberkahan, namun dia tetap lalai dan berrnaksiat. Padahal pengampunan dan rahmat Allah di bulan ini turun bercurah-curah laksana hujan. Maka bagi mereka yang melewati bulan Ramadhan, namun dia terhalang mendapat pengampunan disebabkan keburukan dan dosa-dosanya, maka orang seperti itu kapan lagi akan mendapatkan pengampunan, sedang kebinasaannya tak perlu disangsikan lagi.

Cara untuk memperoleh pengampunan di bulan Ramadhan adalah setelah melaksanakan seluruh amalan bulan Ramadhan seperti puasa dan Tarawih dengan penuh perhatian, hendaklah kita sering bertaubat dan meminta ampun kepada Allah dari segala dosa.

Orang kedua yang mendapat do'a jelek adalah orang yang mendengar nama Rasulullah saw. disebutkan kepadanya, tetapi dia tidak bershalawat kepada beliau. Banyak sekali hadits-hadits yang mengandung makna seperti ini, sehingga dengan alasan itulah para ulama berpendapat bahwa kapan saja nama Rasulullah saw. disebut, maka yang mendengarnya wajib bershalawat kepada beliau. Selain hadits di atas, masih banyak hadits Rasulullah saw. yang berisi ancaman bagi orang yang disebutkan kepadanya nama Rasulullah saw., namun dia tidak bershalawat kepada beliau. Dalam sebagian hadits disebutkan bahwa orang seperti itu digolongkan sebagai orang yang celaka dan paling bakhil. Rasulullah saw. memberitahukan bahwa orang itu adalah keras hatinya, ia termasuk orang yang lupa jalan ke surga, bahkan tergolong orang yang. masuk neraka Jahanam, dan orang yang rusak agamanya. Juga diriwayatkan bahwa orang seperti itu tidak akan melihat wajah Rasulullah saw. yang mulia.

Para ulama telah mentakwilkan riwayat-riwayat seperti itu, namun siapakah yang dapat mengingkari bahwa orang yang tidak bershalawat kepada Rasulullah saw., telah nyata kerasnya ancaman bagi mereka yang akan sulit untuk menanggungnya. Mengapa tidak? Karena kebaikan Rasulullah saw. kepada umat ini lebih banyak daripada kebaikan mereka kepada diri mereka sendiri, sehingga sulit diungkapkan oleh tulisan dan perkataan. Selain itu, banyak sekali hak Rasulullah saw. yang wajib ditunaikan oleh umatnya namun mereka tidak sanggup menunaikannya, sehingga apabila ada di antara umatnya yang tidak bershalawat kepada beliau, maka mereka berhak memperoleh ancaman dan kerugian.

Sungguh banyak keutamaan membaca shalawat kepada Nabi saw. sehingga keterhalangan dari membacanya adalah merupakan kemalangan yang besar. Keutamaan apa lagi yang lebih besar daripada ini? Yaitu seseorang yang bershalawat sekali saja kepada Rasulullah saw., maka Allah Swt. akan mengirimkan rahniat kepadanya sepuluh kali. Malaikat akan berdoa untuknya, dosa-dosanya dimaathan, derajat ditinggikan, mendapatkan pahala sebesar gunung Uhud, wajib atasnya syafaat, dan masih banyak kuntungan-keuntungan lainnya.

Bershalawat kepada Rasulullah saw. juga menyebabkan datangnya keridhaan Allah, rahmat-Nya, keamanan dari kemarahan-Nya, keselamatan dari ketakutan hari Kiamat, melihat tempatnya di surga sebelum kematiannya, dan janji lainnya yang merupakan kekhususan shalawat yang telah ditetapkan. Selain itu semua, dengan membaca shalawat, seseorang akan dijauhkan dari kesempitan hidup dan kefakiran. Dengan shalawat juga akan mendatangkan taqarrub (kedekatan) kepada Allah dan Rasui-Nya, mendapatkan bantuan atas musuh-musuhnya, hatinya akan dibersihkan dari nifaq dan karat, akan dicintai oleh orang-orang, dan banyak sekali kabar gembira lainnya yang diterangkan oleh hadits-hadits tentang keutamaan shalawat.

Para ahli fiqih menerangkan, membaca shalawat sekali dalam seumur hidup adalah wajib. Pendapat ini disepakati oleh seluruh ulama madzhab. Adapun perbedaan pendapat di antara mereka adalah mengenai penyebutan nama Rasulullah saw., apakah wajib bershalawat atasnya setiap nama beliau disebutkan? Sebagian ulama berpendapat bahwa wajib bershalawat atas Rasulullah saw. setiap kali nama beliau disebutkan, tetapi menurut sebagian ulama yang lain, hal itu adalah mustahab.

Orang ketiga yang didoakan jelek oleh Jibril a.s. adalah orang yang mempunyai ibu dan bapak yang sudah tua atau salah seorang di antara keduanya, tetapi karena ia tidak berbakti kepadanya maka ia tidak memperoleh surga, padahal sebenarnya ia berhak untuk mendapatkan surga itu (seandainya ia pandai melayani dan berbakti kepadanya). Banyak sekali hadits yang menerangkan tentang hak-hak orang tua. Para alim ulama - dalam menulis hak-hak orang tua - mengatakan bahwa penting menaatinya dalam hal-hal yang mubah (boleh). 

Mereka juga menulis jangan berlaku kurang sopan kepada mereka, jangan mendatangi mereka dengan kesombongan, walaupun mereka orang rnusyrik; jangan rnengeraskan suara di atas suara mereka; Jangan  memanggil mereka dengan namanya; jangan  mendahului  mereka dalam suatu pekerjaan,  beramar ma'ruf dan nahi munkar kepada mereka dengan lemah lembut, jika mereka tidak menerimanya, maka tetap berbakti kepadanya dan senantiasa berdo'a memintakan hidayah untuk mereka. Tujuan ini semua adalah menjaga rasa hormat kepada. mereka dalam segala hal.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa pintu terbaik untuk rnernasuki surga adalah ibu bapak. Jika engkau suka, peliharalah dia atau sia-siakanlah. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw,  "Apakah hak-hak ibu bapak?" Rasulullah saw. menjawab, "Mereka adalah jannahmu dan Jahannam-mu, Yakni keridhaan mereka akan mernbawamu ke surga, sebaliknya kemurkaan mereka akan menyeretmu ke neraka.

Selanjutnya disebutkan dalam hadits, "Apabila seorang anak yang taat melihat dengan perasaan kasih sayang dan cinta terhadap kedua ibu bapaknya, maka pahalanya adalah sama dengan haji yang maqbul (diterima).
Dalam hadits lain dinyatakan "Selain dosa mempersekutukan Alloh dengan sesuatu, Alloh Mengampuni
segala dosa bagi siapa yang Dia kehendaki, tetapi dosa orang yang mendurhakai ibu bapaknya, Allah akan membalasnya langsung di dunia ini sebelum ia meninggal dunia."

Dalam sebuah kisah disebutkan seorang sahabat berkata, "Ya Rasulullah, aku ingin pergi berjihad!"

Rasulullah saw. bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Ia menjawab. "Ya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Layanilah ibumu itu, karena Jannahmu terletak di bawah telapak kakinya." Dalam hadits lain dikatakan, "Keridhaan Allah terletak pada keridhaan ibu bapak, dan kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua ibu bapak." Masih banyak hadits dan riwayat yang menerangkan tentang keutamaan berbakti kepada orang tua dan dorongan ke arahnya.

Apabila ada seseorang yang karena kelalaiannya telah melakukan kesalahan dalam hal ini sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal, maka dalam syariat yang suci ini, masih ada cara menebusnya (memperbaikinya). Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa seseorang yang kedua orang tuanya telah meninggal, sedangkan dia dalam keadaan mendurhakainya, kemudian ia sering mendoakan mereka dan meminta ampunan untuk mereka, maka dengan sebab itu ia digolongkan kepada anak-anak yang berbakti. Hadits lain menyebutkan bahwa amal seseorang yang paling baik setelah kematian ayahnya adalah berlaku baik kepada teman-teman ayahnya.
Continue Reading...

Saturday, July 21, 2012

5 Keistimewaan Puasa Ramadhan

Dan Abu Hurairah r. a. berkata, Rasulullah saw. bersabda,

5 Keistimewaan Puasa Ramadhan

"Umatku telah dikaruniai lima hal yang istimewa yang belum pernah diberikan kepada umat umat sebelum mereka:

1. Bau mulut orang yang berpuasa lebik harum di sisi Allah daripada harum kesturi

2. Ikan-ikan di lautan memohonkan ampunan bagi mereka hingga mereka berbuka puasa

3. Allah menghiasi surga-Nya setiap hari kemudian berfirman, "Sebentar lagi hamba-hamba-Ku yang saleh akan diangkat segala kesusahan dari mereka dan mereka akan datang kepadamu".

4. Syetan-syetan yang jahat akan dibelenggu supaya tidak dapat bebas menggoda mereka sebagaimana yang biasa mereka lakukan di luar bulan Ramadhan

5. Pada malam terakhir bulan Ramadhan mereka yang berpuasa akan diampuni. Rasulullah saw. ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah malam itu malam Lailatul Qadar?" Rasulullah saw. menjawab, "Bukan, tetapi selayaknya seorang pekerja itu diberikan upahnya apabila telah menyelesaikan pekerjaannya." (Hr. Ahmad)

Sifat mengutamakan orang lain, yang apabila kita lihat, kita akan merasa heran dan tidak akan bisa mengungkapkannya dengan kata- kata, contohnya kisah berikut ini.

Abu Jahm r. a. menceritakan, "Ketika berlangsung perang Yarmuk, beliau pergi mencari sepupunya sambil membawa air dalam kantong kulit untuk minum dan membasuh lukanya sekiranya dia masih hidup. Secara kebetulan dia menemukan sepupunya sedang tergeletak. Ketika beliau menanyakan apakah ia memerlukan air, ia menjawabnya dengan isyarat, "Ya". Tetapi tak lama kemudian terdengar suara orang mengerang tidak jauh dari tempat mereka berada. Sepupu Abu Jahm pun menunjuk ke arah suara itu dengan maksud agar Abu Jahm memberikan air itu terlebih dahulu kepada orang tersebut.

Abu Jahm pun pergi menghampiri orang itu dan ia memang memerlukan air untuk menghilangkan dahaganya yang amat sangat. Baru saja Abu Jahm hendak memberi minum, tiba-tiba terdengar suara orang lain yang mengerang. Maka orang yang akan diberi minum itu pun menunjuk ke arah suara erangan tadi dan meminta Abu Jahm agar memberikan terlebih dahulu air minum itu kepada orang tersebut. Maka Abu Jahm pun menghampiri orang ketiga itu, tetapi belum sempat Abu Jahm memberi minum, orang itu keburu meninggal dunia. Kemudian Abu Jahm bergegas pergi menuju orang kedua, tetapi orang kedua ini pun didapati telah meninggal dunia. Kemudian beliau pergi kepada sepupunya, namun ia juga telah syahid.

Beginilah sifat mengutamakan orang lain yang dimiliki para sahabat terdahulu. Mereka rela mengorbankan jiwanya yang sedang dalam kehausan, dan tidak mau meminum air sebelum saudaranya yang lain meminumnya. Semoga Allah ridha kepada mereka dan memberikan karunia kepada kita agar dapat meneladani jejak langkah mereka.

Dalam kitab Ruhul Bayan diceritakan bahwa Imam Suyuthi dalam kitab Jami'us Shaghir dan Assakhawi dalam kitab Maqasid meriwayatkan dari Ibnu Umar y a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Bahwasanya di kalangan umatku terdapat 500 orang saleh dan 40 wali abdal dalam setiap waktu. Apabila salah seorang di antara mereka meninggal, maka secara langsung yang lain akan menggantikannya." Rasulullah saw. ditanya oleh para sahabat tentang amalan mereka yang istimewa itu. Rasulullah saw. menjawab, "Mereka memaafkan orang yang menzhalimi mereka, membalas dengan kebaikan kepada orang yang menyakiti mereka, dan berbuat baik serta mengutamakan orang lain dengan rezeki yang Allah berikan kepada mereka."

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, "Barangsiapa memberikan roti kepada orang yang lapar atau memberikan pakaian kepada orang yang telanjang, atau memberikan tempat peristirahatan bagi musafir, maka Allah Swt. akan memberikan perlindungan kepadanya dari ketakutan hari kiamat."

Yahya Barmaid rah. a. membelanjakan uangnya setiap bulan sebanyak 1.000 dirham untuk Sufyan Ats Tsauri rah. a. , makanya Sufyan Ats Tsauri rah. a. sering mendoakannya dalam sujudnya, "Ya Allah, sesungguhnya Yahya telah mencukupi kehidupan duniaku. Maka dengan kemurahan-Mu, cukupkanlah kehidupan akhiratnya." Setelah Yahya meninggal, orang-orang memimpikannya dan dalam mimpi itu mereka bertanya kepadanya, "Apa yang telah terjadi padamu di akhirat?" Beliau menjawab, "Aku telah diampuni oleh Allah dengan keberkahan do'a Sufyan."

Rasulullah saw. memberitahukan keutamaan memberi makan untuk berbuka kepada orang yang sedang berpuasa. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahwa para malaikat memohon rahmat pada malam-malam Ramadhan untuk orang yang memberi buka kepada orang yang berbuka puasa dari sumber yang halal, dan pada malam Lailatul Qadr Jibril a.s. berjabatan tangan dengannya.

Tanda-tanda orang-orang yang disalami oleh Jibril a.s. ialah hatinya lembut dan berlinang air matanya. Hamad bin Salamah, seorang muhaddits yang terkenal memberi makan kepada 50 orang setiap hari pada bulan Ramadhan untuk mereka berbuka. (Ruhul Bayan).

Setelah menerangkan keutamaan memberi makan untuk berbuka pu-
asa, Rasulullah saw. bersabda, "Bagian awal bulan ini adalah rahmat, yaitu
karunia Allah diturunkan dan rahmat ini diperuntukkan bagi seluruh orang
Islam. Setelah itu, orang-orang yang mensyukuri nikmat ini, maka rahmat itu
akan ditambahkan baginya.
Continue Reading...

Thursday, July 19, 2012

Hadits Mengenai Puasa Ramadhan bag 1

Dari Salman r.a. meriwayatkan, "Pada hari terakhir bulan Sya'ban, Rasulullah berkhutbah kepada kami,

"Wahai manusia, kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung, bulan yang sarat dengan berkah, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih haik (nilainya) dari seribu bulan. Inilah bulan yang Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat Tarawih di malam harinya sebagai sunnah.

.. Barangsiapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah di bulan ini dengan suatu amalan sunnat, maka pahalanya seolah-olah dia melakukan amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain. Dan barangsiapa melakukan amalan fardhu pada bulan ini, maka dia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan yang lain.

.. Inilah bulan kesabaran dan ganjaran bagi kesabaran yang sejati adalah surga, bulan ini juga merupakan bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang beriman ditambah. Barangsiapa memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang yang berpuasa maka kepadanya dibalas dengan keampunan terhadap dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka Jahanam dan dia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana orang yang berpuasa tadi tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu."

Dalam hadits di atas Rasulullah saw. juga menunjukkan empat hal kepada kita dan menasihati kita agar memperbanyak empat hal tersebut, yaitu: pertama, kalimah toyyibah; kedua, istighfar; ketiga, doa meminta surga dan keempat do'a memohon keselamatan dari neraka. Oleh karena itu, sedapat mungkin waktu-waktu luang bisa digunakan untuk mengamalkan keempat hal di atas, dan anggaplah hal itu sebagai suatu karunia bagi kita, juga sebagai bentuk penghargaan kita atas nasihat-nasihat Rasulullah saw.. Apa susahnya sambil mengerjakan urusan dunia, kita membaca shalawat atau. kalimah thayyibah sedangkan amalan ini semua akan kekal sampai nanti.

Selanjutnya, Rasulullah saw. menerangkan keistimewaan dan adab-adab bulan yang berkah ini. Beliau menyatakan bahwa hulan ini adalah bulan kesabaran, yaitu menahan diri dari kesulitan dan beban yang ada dalam berpuasa dan lain-lainnya dengan penuh semangat. Jangan sampai kita mengeluh dan berteriak-teriak sebagaimana adat orang-orang ketika cuaca panas di bulan Ramadhan.

Begitu juga apabila kita kebetulan. tidak makan sahur, maka tetaplah melaksanakan puasa. juga apabila kita merasa berat dalam melakukan tarawih di malam hari, maka bersabarlah dan melaksanakannya dengan penuh kegembiraan. janganlah kita menganggap semua itu sebagai suatu musibah atau kesialan, karna yang demikian itu sungguh tidak pantas. Mengapa untuk mendapatkan kepentingan dunia yang sedikit kita mampu untuk tidak makan maupun minum, dan tidak istirahat, sedangkan untuk mendapatan ridha Allah kita tidak marnpu melakukannya?


Kami pun berkata, "Ya Rasulullah! Tidak semua orang di antara kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa
untuk berbuka. "

Rasulullah saw.menjawab, "Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah Menurunkan rahmat, sepuluh hari pertengahannya Allah Memberikan keampunan, dan pada sepuluh hari yang terakhir Allah Membebaskan hamba-Nya dari api neraka Jahanam. Barangsiapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada hulan ini, maka Allah Swt. akan mengampuninya dun membebaskannya dari api neraka. perbanyaklah di bulan ini empat perkara.

Dua perkara dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua lagi kamu pasti memerlukannya. Dua perkara yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu, hendaknya kalian membaca kalimah thayibah dun istighfar sebanyak-banyaknya.

Dan dua perkara yang kita pasti memerlukannya, yaitu hendaknya kamu memohon kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka Jahanam. Dan barangsiapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (Haudh) yang sekali minum saja dia tidak akan merasakan dahaga lagi sehingga dia memasuki surga." (Hr. Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya).
Continue Reading...

Tuesday, July 17, 2012

Fadhilah Puasa Ramadhan

Sobat "Dunia Islam" InsyaAlloh, beberapa hari lagi kita akan kedatangan bulan yang penuh berkah, bulan yang mulia. Ada hiasan pada sesuatu sehingga sesuatu bisa menjadi indah. Dan hiasan pada bulan-bulan adalah Romadlon. Salah satu ciri orang beriman adalah rindu dengan kedatangan tamu yang mulia ini.. Romadlon.

Tiada tara keutamaan bulan Romadlon ini. Bulan yang penuh Barokah, di bulan mulia ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup, Setan-Setan dibelenggu, di bulan ini ada Lailatul Qodar yaitu satu malam yang keutamaan beramal di dalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'siat agar menahan diri.


"Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut " Rayyaan". Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim).




Lafadz niat puasa fardhu Ramadhan :

نويت صوم غد عن أداء فرض شهررمضان هذه السنة لله تعالى


Artinya : aku niat puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala.




Lafaz niat puasa Qhada’ Ramadhan :


نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى


Artinya : aku niat puasa esok hari karena ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala.


Qhada’ Puasa Ramadhan ialah menggantikan puasa yang batal pada bulan Ramadhan sehingga dibolehkan berbuka oleh syara’.

Hukum Qada’ Puasa Ramadhan

Wajib menggantikan puasa Ramadhan bagi yang membatalkan puasa Ramadhannya kerena keudzuran ataupun tanpa suatu keudzuran.



Doa Ketika Berbuka Puasa:


اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت برحمتك ياأرحم الراحمين


Artinya : Ya Tuhanku karena-Mu aku berpuasa dan denganmu aku beriman dan di atas rezekimu aku berbuka dengan belas kasihanmu Ya Allah yang amat mengasihani.


Fadhilah lain puasa Romadlon:

"Diriwayatkan dari Thalhah bin ' Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Alloh atas diriku.  Beliau bersabda : puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. ".

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Alloh hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. ( H.R: Jama'ah Kecuali Muslim ) Maksudnya Alloh tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan,  pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji ,  jangan berteriak-teriak ( pertengkaran ), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : "sesungguhnya saya sedang puasa" . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Alloh pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)


Sobat mukmin semua, hendaknya di bulan romadlon kita lebih banyak bershodaqah, banyak menolong, dakwah dan banyak membaca al-qur'an.  Juga menegakkan sholat malam / sholat Tarawih dengan berjama'ah.

Ya Alloh jadikan Romadlon kali ini menjadi sebab naiknya derajat kami menjadi hamba yang taqwa. Aamiin.
Continue Reading...

Tuesday, July 3, 2012

Cara Menentukan Arah Kiblat

APAKAH arah kiblat masjid bisa berubah atau bergeser akibat gempa bumi maupun bergeraknya lempeng Bumi seperti isu yang tengah berkembang? Jawabannya tentu TIDAK! Artinya pengukuran sebelumnya memang yang membuat arah kiblat masjid tersebut tidak tepat. Dan para pakar geologi menegaskan bahwa kiblat tidak akan bergeser karena gempa maupun pergeseran lempeng Bumi.

Apakah arah kiblat cukup ke BARAT, sebagaimana yang difatwakan oleh MUI beberapa waktu yang lalu? Jawabannya tentu TIDAK! Sebab di zaman sekarang menentukan arah kiblat semudah membalik telapak tangan, karena saking mudahnya alias tidak sulit.

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” (QS. Al-Baqarah : 149)

“Baitullah (Ka’bah) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (Makkah) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi Timur dan Barat dari umatku” (HR. Al-Baihaqi)

“Jika kamu mendirikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat, lalu takbir, kemudian bacalah apa yang kamu hafal dari qur’an, lalu ruku’ sampai sempurna, kemudian i’tidal sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, kemudian duduk di antara dua sujud sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, lakukanlah yang demikian itu setiap rekaat.” (HR. Abu Hurairah)

...Sebab di zaman sekarang menentukan arah kiblat semudah membalik telapak tangan karena saking mudahnya. Alatnya hanya jam dan tongkat atau seutas benang...


Dalam ajaran Islam, menghadap ke arah kiblat atau bangunan Ka’bah yang berada di Masjidil Haram adalah merupakan tuntutan syariah dalam melaksanakan ibadah tertentu. Berkiblat wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah Muslim. Menghadap kiblat juga merupakan ibadah sunah ketika tengah azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang dan sebagainya.Mengukur Arah Qiblat yang Murah, Praktis, Akurat dan Ilmiah

Lantas apakah bisa mengukur arah kiblat secara presisi dengan biaya yang murah? Jawabannya adalah BISA! Yaitu dengan menggunakan fenomena astronomis yang terjadi pada hari yang disebut sebagai yaumul rashdil qiblat atau hari meluruskan arah kiblat karena saat itu Matahari tepat di atas Ka’bah. Fenomena yang terjadi 2 kali selama setahun ini dikenal juga dengan istilah “Transit Utama” atau “Istiwa A’dhom.” Pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli 2010 Matahari tepat berada di atas Ka’bah.

Istiwa, dalam bahasa astronomi adalah transit yaitu fenomena saat posisi Matahari melintasi di meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Setiap hari dalam wilayah Zona Tropis yaitu wilayah sekitar garis Khatulistiwa antara 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS posisi Matahari saat istiwa’ selalu berubah, terkadang di Utara dan disaat lain di Selatan sepanjang garis Meridian. Hingga pada saat tertentu sebuah tempat akan mengalami peristiwa yang disebut Istiwa A’dhom yaitu saat Matahari berada tepat di atas kepala pengamat di lokasi tersebut.

Hal ini bisa dipahami sebab akibat gerakan semu Matahari yang disebut sebagai gerak tahunan Matahari. Ini diakibatkan selama Bumi beredar mengelilingi Matahari sumbu Bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun Matahari terlihat mengalami pergeseran antara 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Pada saat nilai azimuth Matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa A’dhom yaitu melintasnya Matahari melewati zenit lokasi setempat.


Demikian halnya Ka’bah yang berada pada koordinat 21,4° LU dan 39,8° BT dalam setahun juga akan mengalami 2 kali peristiwa Istiwa A’dhom yaitu setiap tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 waktu setempat dan 16 Juli sekitar pukul 12.27 waktu setempat. Jika waktu tersebut dikonversi maka di Indonesia peristiwanya terjadi pada 28 Mei pukul 16.18 WIB dan 16 Juli pukul 16.27 WIB. Dengan adanya peristiwa Matahari tepat di atas Ka’bah tersebut maka umat Islam yang berada jauh dan berbeda waktu tidak lebih dari 5 atau 6 jam dapat menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan Matahari.

...Konsep mengukur arah kiblat ini sangat sederhana. Pada tanggal 16 Juli 2010 pukul 16:27 WIB, matahari tepat berada di atas Ka’bah. Maka Posisi Matahari adalah Arah Kiblat, dan Bayangan Matahari adalah Arah Kiblat...

Konsepnya sederhana!

Konsep mengukur arah kiblat ini sangat sederhana.

1. Saat Matahari di atas Ka’bah maka semua bayangan benda tegak akan mengarah ke Ka’bah.

2. Pada tanggal 28 Mei 2010 pukul 16:18 WIB dan 16 Juli 2010 pukul 16:27 WIB, Matahari tepat berada di atas Ka’bah

3. Posisi Matahari = Arah Kiblat

4. Bayangan Matahari = Arah Kiblat

Inilah cara menera (mengukur) arah Qiblat dengan tepat:

1. Penentuan arah kiblat menggunakan fenomena Istiwa A'dhom hanya berlaku untuk tempat-tempat yang pada saat peristiwa itu terjadi (tanggal 16 Juli 2010 pukul 16:27 WIB), dapat melihat matahari secara langsung.


2. Siapkan jam atau arloji yang sudah dicocokkan (dikalibrasi) waktunya secara tepat sesuai dengan radio, televisi, internet atau telepon ke 103.

3. Tentukan lokasi masjid, musholla, surau atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.

4. Sediakan tongkat lurus panjang minimal 1 meter. Akan lebih bagus jika menggunakan benang besar yang diberi bandul sehingga tegak benar.

5. Tentukan lokasi pengukuran; di dalam masjid (diutamakan) atau di sisi Selatan Masjid atau di sisi Utara atau di halaman depan masjid. Yang penting tempat tersebut datar dan masih mendapatkan penyinaran Matahari saat peristiwa Istiwa A’dhom (matahari di atas Ka’bah) sedang berlangsung.

6. Pasang tongkat secara tegak dengan bantuan lot tukang (jika menggunakan tongkat) atau pasang benang lengkap dengan bandul serta penyangganya di tempat tersebut. (Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya fenomena agar tidak terburu-buru)

7. Tunggu sampai saat Istiwa A’dhom terjadi dan amatilah bayangan Matahari yang terjadi. Berilah tanda menggunakan spidol, benang, lakban, penggaris atau alat lain yang dapat membuat tanda lurus. Maka itulah arah kiblat yang sebenarnya

8. Gunakan benang, sambungan pada tegel lantai, atau teknik lain yang dapat meluruskan arah kiblat ini ini ke dalam masjid. Intinya yang hendak kita ukur sebenarnya adalah garis shaff yang posisinya tegak lurus (90°) terhadap arah kiblat. Maka setelah garis arah kiblat kita dapatkan untuk membuat garis shaff dapat dilakukan dengan mengukur arah sikunya dengan bantuan benda-benda yang memiliki sudut siku misalnya lembaran triplek atau kertas karton.

9. Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla atau surau saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Semoga cuaca cerah.

10. Jika anda khawatir gagal karena Matahari terhalang oleh mendung (atau kendala lainya), maka toleransi pengukuran dapat dilakukan pada H-2 hingga H+2 (tanggal 14 sd 18 Juli 2010), dengan cara menambah 3 menit perhari sesudahnya (tanggal 17-18 Juli), dan mengurangi 3 menit per hari sebelumnya (tanggal 14-15 Juli).


Semoga dengan lurusnya arah kiblat kita, ibadah shalat yang kita kerjakan menjadi lebih afdhal dan doanya lebih dikabulkan. Amin. Wallahu a'lam
salam_sitijamilahamdi

Dicuplik dari artikel “Rashdul Kiblat 2010” karya Mutoha Arkanuddin dalam rukyatulhilal.org.
Continue Reading...
 

dunia islam Copyright © 2009 |Privacy Policy|WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template